Belajar dari Rumah Menyenangkan, Kunci Keluarga Tangguh

Margaretha Ari Widowati, Direktur Program PINTAR, Tanoto Foundation.

 

HALO SEMARANG – Tanoto Foundation menggelar webinar bertema Orang Tua Sahabat Anak Belajar pada Kamis, (12/11/2020).

Dalam kesempatan ini, Tanoto Foundation berkolaborasi dengan Chyntia Pedjokerto, ahli parenting dari Wellness Counselling dan Education Center dan Tari Sadjojo, praktisi pendidikan, dan direktur akademik Sekolah Cikal.

“Pandemi membuat kita sadar sebagai orang tua, anak, guru harus bekerja sama untuk menekan learning loss selama pandemi. Tanoto Foundation membantu orang tua untuk mensukseskan pendidikan anaknya. Kami yakin saat ini anak belajar, tapi orang tua juga belajar lebih baik menemani anak di rumah. Seminar ini lanjutan dari peluncuran panduan bagi orang tua dalam menemani anak pada April 2020,” kata Margaretha Ari Widowati, Direktur Program PINTAR, Tanoto Foundation saat membuka acara.

Sementara Chyntia Pedjokerto, ahli parenting dari Wellness Counselling mengatakan, setiap anggota keluarga rentan stres pada masa pandemi. Karena seluruh kegiatan dilakukan di dalam rumah.

Tentunya orang tua dituntut untuk pintar mengatur emosi dan jadwal keluarga.

“Dengan jadwal keluarga dapat memperbolehkan setiap anggota keluarga untuk jeda dan istirahat agar terhindar dari stres,” katanya.

Chyntia juga menyarankan membuat jadwal bersama. Orang tua dan anak dapat menganalisa perubahan kegiatan-kegiatan sebelum dan sesudah pandemi. “Seperti memasukkan kegiatan rutin tatap muka yang tidak dapat dilakukan, yaitu berolahraga dan bersosialisasi dengan memperhatikan protokol kesehatan,” tuturnya.

Tari Sadjojo, direktur akademik Sekolah Cikal juga menjelaskan, mengatur rutinitas setiap anggota keluarga, menjadi strategi penting dalam mendampingi anak belajar.

“Penting sekali untuk mengatur dengan mempertimbangkan siapa yang menemani anak-anak, bagaimana mengatur waktu di sela-sela kesibukan kerja, kapan anak dapat belajar mandiri. Yang paling penting adalah bagaimana menjadi satu keluarga, tetap bertemu, tidak jalan sendiri-sendiri. Contohnya mengagendakan makan malam bersama, membereskan rumah bersama,” tambah Tari Sadjojo.

Tari mengatakan, bahwa mendiskusikan situasi berkala di keluarga inti penting untuk menerapkan pendidikan yang berpihak pada anak.

Dari komunikasi itu, orang tua dapat memetakan kebutuhan belajar anak yang berbeda, sehingga bisa menyelenggarakan pembelajaran di rumah. Seperti menyiasati ruangan rumah untuk anak-anak belajar.

Serta mengkomunikasikan ekspektasi setiap anggota keluarga, guna membantu anggota keluarga menyesuaikan diri dengan memahami kebutuhan masing-masing anak.

Sebelum menuju keahlian advokasi diri, menurutnya penting bagi orang tua menemukan potensi anak.

“Oh ternyata anak saya mampu mengenali pola dengan baik, oh anak saya visual spasial saya baik, mungkin kalau saya belikan puzzle materi tersebut dengan mendengarkan rekaman videonya, mempermudah anak memahami materi,” tambah Tari.

Selain itu, situasi pandemi ini, kata Tari, menantang bagi segala lapisan, guru, siswa, dan orang tua. Ketika pembelajaran tatap muka, sekolah dapat memastikan untuk memenuhi kebetuhan anak setiap kelas. Sedangkan selama pandemi, guru bermitra dengan orang tua sebagai pendamping belajar bukan pengganti guru.

Strategi mendampingi anak belajar adalah membina komunikasi dengan pihak sekolah dengan baik. Penting bagi sekolah untuk kooperatif dan menurunkan standar tatap muka dalam belajar dari rumah.

“Ada beberapa sekolah sudah memperbolehkan video off karena beberapa anak merasa terintimidasi,” papar Tari.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.