Bea Cukai Bongkar Upaya Peredaran Pisau Cukur Impor Palsu

Kapala Kantor Pengawasan Dan Pelayanan Bea Dan Cukai Tipe Madya Pabean Tanjung Emas, Anton Martin (tengah) menunjukkan pisau cukur yang diduga palsu dan akan diselundupkan ke Semarang.

 

HALO SEMARANG – Kantor Pengawasan Dan Pelayanan Bea Dan Cukai Tipe Madya Pabean Tanjung Emas, berhasil menggagalkan masuknya ribuan pisau cukur merek Gillette yang diduga palsu.

Kapala Kantor Pengawasan Dan Pelayanan Bea Dan Cukai Tipe Madya Pabean Tanjung Emas, Anton Martin menyatakan, pihaknya menyita sebanyak 390 ribu tangkai pisau cukur, dan 521.280 kepala pisau cukur yang diimpor oleh PT LBA dari China.

Menurutnya, barang-barang ilegal tersebut dikemas dalam 185 kotak karton.

“Bea Cukai menggagalkan upaya pemasukan barang impor tiruan yang diduga melanggar Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Ditemukan 7 Oktober 2020 yang diimpor oleh PT LBA dari China,” katanya di Tempat Penimbunan Pabean Bea Cukai Tanjung Emas, Semarang, Senin (26/10/2020).

Anton menambahkan, bea cukai kemudian melakukan penegahan dan menyampaikan informasi tentang kedatangan muatan tersebut ke PT Procter & Gamble Home Production Indonesia, sebagai pemegang hak merek tersebut. Sehingga selain pencegahan, pihak perusahaan juga melakukan penangguhan sementara ke Pengadilan Niaga Semarang.

“Pada tanggal 19 Oktober 2020, Pengadilan Niaga Semarang mengabulkan permohonan penangguhan sementara tersebut, dan ditindaklanjuti oleh right holder dengan mengajukan jadwal pemeriksaan fisik bersama kepada Bea Cukai Tanjung Emas,” jelas Anton.

Penindakan ini, lanjutnya, merupakan kerja sama dengan pihak PT P&G Home Product Indonesia selaku pemegang merek. Di mana perusahaan PT P&G ini sudah terdaftar dalam sistem CEISA (Customs Excise Integrated System and Automation) Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

“Dengan adanya sistem ini, Bea Cukai segera memberikan notifikasi kepada right holder, apabila terjadi dugaan importasi atau eksportasi barang yang melanggar HKI,” katanya.

Anton Martin menambahkan, penindakan terhadap barang impor yang melanggar HAKI sangat penting untuk melindungi industri dalam negeri, terutama para pemegang hak maupun industri kreatif.

“Pencegahan ini, juga menjadi bukti kepedulian Indonesia terhadap perlindungan HAKI, sehingga bisa meningkatkan kepercayaan dunia internasional,” ujarnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.