Banyak Lampu Penerangan Mati, Warga Keluhkan Taman Meteseh Gelap di Malam Hari

Suasana Taman Meteseh di Jalan Tunggu Raya, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang cukup ramai dikunjungi warga terutama pada sore di akhir pekan.

 

HALO SEMARANG – Kondisi lampu penerangan di Taman Meteseh, yang berada di Jalan Tunggu Raya, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang banyak yang mati. Sehingga membuat suasana taman menjadi gelap pada malam hari, dan hal ini dikeluhkan warga dan pengunjung yang datang ke taman.

Salah satu warga Meteseh, Nuriyanto (49) mengatakan, beberapa lampu taman kondisinya mati, sehingga membuat suasana taman menjadi gelap pada malam hari.

“Biasanya kalau malam hari, pengunjung yang datang terutama akhir pekan seperti ini cukup ramai. Kalau suasana taman gelap, kan malah dipakai muda-mudi untuk pacaran,” imbuhnya, baru-baru ini.

Dari semua lampu taman yang ada di taman, kata dia, hanya ada beberapa saja yang kondisinya menyala saat malam hari. Dirinya berharap fasilitas lampu di taman bisa segera diperbaiki dinas terkait.

“Kalau gelap seperti ini, saya juga merasa tidak nyaman saat bersantai di sekitar taman. Lampu yang mati kemungkinan karena konslet, apalagi saat ini musim hujan,” katanya.

Untuk fasilitas lainnya seperti toilet dan tempat sampah sudah disediakan, tinggal tempat cuci tangan saja yang belum.

“Di sini juga dilengkapi untuk fasilitas olahraga warga dan permainan anak. Saat ini untuk permainan anak, seperti ayunan, perosotan anak, masih sedang tahap perbaikan. Kalau fasilitas olahraga, ada lapangan futsal,” katanya.

Kepala Bidang Pertamanan dan Pemakaman Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang, Murni Ediati saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya akan segera memperbaiki fasilitas penerangan taman di Taman Meteseh yang rusak.

Sedangkan, untuk fasilitas lainnya berupa wastafel atau tempat cuci tangan memang belum semua taman disediakan.

“Rencananya akan kita buatkan wastafel yang standar bukan yang portable. Saat ini masih menunggu anggarannya,” terangnya, Minggu (21/3/2021).

Sedangkan, pemilihan tempat cuci tangan yang bukan wastafel portable, kata Pipie sapaan akrabnya, karena yang portable akan rawan mengalami kerusakan.

“Sehingga akan kami buat yang standar saja, seperti yang terjadi di Taman Meteseh sudah pernah kita pasang yang wastafel portable, tapi kondisinya juga rusak. Namun untuk sementara waktu ini, nanti kita sediakan di sana wastafel yang portable dulu,” imbuhnya.

Terkait, sering rusaknya fasilitas dan aksi vandalisme di taman aktif, lanjut dia, akan memberikan pengawasan dengan pemasangan CCTV di beberapa taman.

“Ini memang baru beberapa taman sudah kita pasang CCTV untuk meminimalisir kerusakan fasilitas yang ada. Selain itu, saya juga mengimbau warga untuk ikut menjaga fasilitas yang ada, sehingga taman bisa menjadi tempat yang nyaman dan aman dikunjungi. Sedangkan untuk total taman kita saat ini ada 200 lebih, baik taman aktif dan pasif,” terangnya.

Dari 200 taman yang ada itu, kata Pipie, masih ada sebanyak 30 persen yang belum disediakan tempat cuci tangan portable. Sebab, di taman tersebut sudah ada fasilitas berupa kamar mandi, sehingga tidak perlu disediakan wastafel portable.

“Taman yang belum ada wastafelnya, nantinya program kita buatkan yang standar langsung dialirkan ke sumber airnya. Masih direncanakan, semoga tahun 2021 ini sudah pengadaan dan terpasang semuanya,” pungkasnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.