in

Banyak Ditemukan Masyarakat Konsumsi Garam Beryodium di Bawah Standar

Pelatihan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat tentang program konsumsi garam beryodium yang digelar LP2K dan Nutrition International di Hotel Grasia Kota Semarang, Rabu (13/10/2021).

 

HALO SEMARANG – Kecukupan akan garam beryodium dalam kehidupan sehari-hari memang dibutuhkan, meski prosentase konsumsinya sedikit. Faktanya, kandungan yodium dalam garam di pasaran hanya sebatas label pada kemasan.

Yayasan Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Jawa Tengah bersama Nutrition International (NI) menggelar pelatihan dan penguatan kepada Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) dalam pemantauan dan penegakan hukum pada program konsumsi garam beryodium untuk semua.

Ketua LP2K Abdun Mufid mengungkapkan, selama dua hari (13-14 Oktober 2021), 25 lembaga konsumen yang menjadi peserta dari tujuh provinsi di Indonesia ini dibekali pengetahuan baik teori dan praktik untuk dapat mengedukasi masyarakat pentingnya garam beryodium.

“Mereka dibekali untuk pengujian garam yodium yang ada di pasaran dan metode trirasi sederhana namun hasilnya cukup akurat, sehingga nanti mereka jadi tahu mana yang berkualitas dan tidak,” kata Mufid di sela-sela acara yang diselenggarakan di Hotel Grasia Jalan S Parman No. 29 Kota Semarang, Rabu (13/10/2021).

Ia menyebutkan, dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2015 hingga 2018, di beberapa daerah Jawa Tengah banyak ditemukan komposisi garam beryodium di bawah standar nasional Indonesia (SNI).

“Tapi faktanya di lapangan banyak garam tidak sesuai dengan standar di bawah 30 ppm, bahkan sama sekali tidak ada. Kami riset di pasar yang tersebar di Kabupaten Tegal, Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Jepara, hasilnya menghawatirkan,” tuturnya.

Ia mengatakan, masyarakat perlu diberikan edukasi terkait ketercukupan garam beryodium, selain mendesak pemerintah untuk melakukan intervensi kepada perusahaan penghasil garam.

“Maka itu tetap memerlukan intervensi pemerintah, dalam artian quality control di pasar. Setelah mengetahui produk tidak bagus, bisa dilakukan skrining apabila di bawah ppm standar bisa ditolak masuk,” ujarnya.

Sementara itu, USI IDD Consultant Central Java Province Nutrition International Indonesia, Nurkhayati Darunifah menambahkan, sepuluh tahun lalu perusahaan dituntut untuk memberikan yodium pada garam produksinya. Namun perusahaan penghasil garam saat ini memberikan yodium tidak sesuai standar.

“Sebelum tahun 2011-2012 mereka mau dan tidak mau memberi yodium, makanya pakai yodinates untuk membuktikan ada dan tidak adanya yodium. Saat ini itu posisi perusahaan sudah pintar, mereka memberi (yodium) tapi alakadarnya, atau disebut garam bodoh,” kata Darunifah.

Ia menuturkan, garam merupakan bukan hal yang utama. Tetapi kadar penambahan yodium menjadikan garam itu penting bagi pertumbuhan manusia.

“Garam ini bukan garamnya yang utama, tetapi lebih ke fortifikan yodium. Karena yang disebabkan kurangnya yodium selain gondok juga stunting, gangguan pertumbuhan dan berpotensi kematian saat lahir,” ujarnya.

Darunifah menerangkan, dampak kekurangan garam beryodium sangat nyata masih dialami masyarakat Indonesia. Dampak tersebut, menurutnya, akan berujung fatal dan sulit untuk diberikan penanganan.

“Seorang ibu hamil yang kekurangan yodium itu akan mempengaruhi IQ anaknya saat lahir 13 poin berkurang dari anak normal. Jangan sampai ini biarkan, nanti bisa mundur tiga hingga lima generasi,” terangnya.

Ia berharap masyarakat harus tanggap dengan keadaan yang dapat dibilang darurat ini. Dengan menjadi pembeli yang cerdas memilih garam beryodium, supaya perusahaan penghasil garam akan mengikuti arah konsumen.

“Kalau masyarakat pintar dan mereka tidak milih produk yang jelek, akhirnya mau tidak mau perusahaan menyesuaikan,” paparnya.(HS)

Share This

Hendi Kenang Jasa KRMT Wongsonegoro Untuk Kota Semarang

Yakin Dapat Duel Perebutan Titel