Bantuan Dana Stimulus Rumah Rusak Akibat Bencana Di Semarang Belum Bisa Cair

Salah satu rumah warga yang rusak di Perum Bukit Manyaran Permai akibat longsor yang terjadi pada Minggu, (28/2/2021). (Dok. BPBD Kota Semarang).

 

HALO SEMARANG – Bantuan berupa dana stimulus untuk warga terdampak bencana, yang rumahnya mengalami kerusakan ringan hingga berat akibat terkena tanah longsor, angin puting beliung, dan banjir sampai saat ini belum bisa diberikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang.

Sebab, pihaknya saat ini masih terkendala dengan aturan yang baru, yakni Sistem Informasi Pemerintah Daerah (SIPD).

Sekretaris BPBD Kota Semarang, Winarsono mengatakan, sehingga bantuan yang bisa diberikan untuk warga terdampak bencana saat ini baru berupa bantuan logistik.

Seperti sembako, terpal untuk penutup tebing yang longsor maupun nasi bungkus dengan membuka dapur umum.

“Iya, belum ada bantuan dana stimulus untuk warga terdampak bencana seperti puting beliung, tanah longsor, dan banjir yang terjadi di sebagian besar wilayah Kota Semarang. Karena kami masih terkendala untuk tahun 2021, berkaitan regulasi yang baru SIPD, bansos yang sebelumnya disendirikan itu sekarang ini tidak masuk,” jelasnya, Senin (1/3/2021).

Padahal, pihaknya setiap kali ada bencana selalu melakukan pendataan.

“Kami sudah membuat nota dinas, namun setelah diajukan ke dinas pengelolaan keuangan dan aset daerah (DPKAD) anggarannya tidak ada. Sehingga kita berhenti di DPKAD, padahal bencana jalan terus,” katanya.

Menurutnya, pada tahun 2020 jika terjadi bencana lalu mengakibatkan rumah roboh atau rusak, pihaknya bisa mengajukan anggaran perbaikan rumah.

Memang saat ini ada anggaran untuk bencana tidak terduga (BTT), namun anggaran tersebut digunakan untuk penanganan pandemi Covid-19. Dan pengajuan BTT harus ada status tanggap darurat.

“Sedangkan bansos khusus, juga belum diberikan ke warga yang rumahnya rusak akibat adanya bencana,” terangnya.

Dari data BPBD Kota Semarang, beberapa titik bencana  tanah longsor yang terjadi pada Minggu, (28/2/2021), yaitu di Perumahan Bukit Manyaran Permai.

Longsoran menyebabkan tujuh rumah warga rusak. Begitu juga, di daerah Sadeng, Gunungpati juga terjadi longsoran.

Sebelumnya, Jumat (26/2/2021), longsor menimpa sebuah rumah milik Sugiri, warga Jalan Udowo Timur 1 RT 6 RW 10 Kelurahan Bulu Lor, Kecamatan Semarang Utara, sehingga roboh.

Kondisi rumah bagian depan dan belakang rusak diterjang hujan deras dan angin kencang.

Di lokasi lain, sebuah rumah milik Pradana, warga Jalan Kalipepe 1 RT 03 RW 01, Kecamatan Banyumanik, Kelurahan Pudakpayung Semarang, juga roboh tertimpa tanah longsor.

Yakni diterjang longsoran tebing, sehingga bagian ruang tamu rumah hancur.

Sedangkan pada, Kamis (25/2/2021) lalu, tanah longsor juga terjadi di Jalan Delikrejo RT 09 RW 11 Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang, Semarang, menimpa rumah milik Slamet Riyadi (50). Sebanyak 80 persen rumah kondisi rusak.

Menanggapi hal ini, Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Joko Santoso mengatakan, harus ada evaluasi dan pemetaan daerah rawan bencana.

Misalnya, yang baru terjadi tanah longsor seperti di Perum Bukit Manyaran Permai dan Sadeng Gunungpati yang menyebabkan sejumlah rumah warga roboh, karena tertimpa longsoran.

“Sehingga ke depannya bisa menetapkan zonasi untuk tata ruang wilayah mana saja yang bisa untuk dijadikan perumahan atau permukiman dan mana yang tidak boleh dijadikan tempat tinggal penduduk,” pungkasnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.