Banjir Klawing, Warga Kemangkon Purbalingga Masih Harus Waspada

Banjir Kali Klawing di Kemangkon. (Foto: tribratanews.jateng.polri.go.id)

 

HALO PURBALINGGA – Warga Kecamatan Kemangkon di tepi Sungai Klawing di Purbalingga, perlu waspada karena hujan akan masih terus terjadi.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memprakirakan puncak musim hujan akan berlangsung Januari 2021 hingga Februari 2021. Dengan demikian wilayah ini masih mungkin dilanda banjir lagi.

“Kami imbau warga di lokasi rawan untuk waspada terjadinya banjir susulan. Karena beberapa hari terakhir hujan turun deras dan berpotensi menyebabkan banjir kembali,” kata Kapolsek Kemangkon Iptu Damar Iskandar.

Banjir sebelumnya memang telah beberapa kali melanda wilayah di tepi Kali Klawing, termasuk di Kecamatan Kemangkon, Purbalingga, beberapa waktu lalu.

Kapolsek mengatakan banjir melanda tiga desa yaitu Desa Jetis, Desa Toyareka dan Desa Gambarsari. Banjir terjadi akibat Sungai Klawing tak lagi mampu menampung air, setelah wilayah itu dilanda hujan deras dari sore sampai malam.

“Tidak ada korban jiwa akibat banjir tersebut. Namun banjir merendam sejumlah pemukiman warga di sejumlah desa sehingga warga diungsikan sementara di tempat yang aman,” kata kapolsek, Minggu (13/12).

Kapolsek menjelaskan bahwa evakuasi sudah dilakukan oleh personel Polsek Kemangkon, bersama petugas dari BPBD, TNI, SAR dan relawan. Warga Diungsikan sementara ke balai desa, tempat ibadah dan gedung sekolah.

Kapolsek menambahkan untuk kerugian akibat banjir masih dalam pendataan. Setidaknya ratusan rumah dari tiga desa tersebut sempat tergenang air dari luapan Sungai Klawing.

Kali Klawing adalah sungai yang berhulu, antara lain di Gunung Sitengkek di Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga.

Sungai Klawing adalah sungai terbesar di Kabupaten Purbalingga yang terkenal dengan potensi batu akiknya.

Sungai ini berada di daerah aliran sungai (DAS) Serayu. Luas Sub-DAS Klawing sekira 1.725,1306 Km2. Sungai ini melintasi Kecamatan Bobotsari, Kecamatan Mrebet, Kecamatan Bojongsari, Kecamatan Purbalingga, Kecamatan Kaligondang, dan Kecamatan Kemangkon di Kabupaten Purbalingga.

Anak sungai yang cukup besar di antaranya, Sungai Pelus, Sungai Berem, Sungai Ponggawa, Sungai Pekacangan, Sungai Lebak, Sungai Kajar, Sungai Gemuruh, Sungai Lemberang, Sungai Gintung, Sungai Paingen, Sungai Soso, Sungai Laban, dan Sungai Tungtung

Banjir Kali Klawing sebelumnya juga terjadi Rabu (2/12) hingga Kamis (3/12) dinihari. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas mencatat ada ribuan rumah yang terendam di sejumlah kecamatan yang dilewati aliran Sungai Serayu. Sedangkan BPBD Purbalingga menginventarisasi ada ratusan rumah di enam desa yang berbatasan dengan Sungai Klawing juga kebanjiran.

Berdasarkan pengukuran curah hujan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), curah hujan di wilayah-wilayah Jateng barat memang cukup tinggi.

Menurut Kepala Stasiun Geofisika BMKG Banjarnegara Setyoajie  Prayoedhie, curah hujan tinggi di wilayah hulu Sungai Serayu memang tinggi.

Di Kecamatan Pejawaran, pada 3 Desember tercatat 108 milimeter (mm). Kemudian Pandanarum 110 mm, Wanayasa mencapai 115 mm. Hal ini meningkatkan volume di Sungai Serayu.

Wilayah-wilayah tersebut merupakan daerah pegunungan yang di Banjarnegara yang merupakan wilayah hulu Sungai Serayu. Sedangkan di wilayah Purbalingga tercatat juga cukup tinggi curah hujannya. Salah satunya di Kecamatan Kaligondang yang mencapai 175 mm. Hujan di Kecamatan Kaligondang termasuk ekstrem karena lebih dari 150 mm dalam 24 jam.

Doktor hidrologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Yanto, mengungkapkan bahwa banjir yang terjadi di Banyumas dan Cilacap lebih karena faktor curah hujan yang tinggi.

Selain itu ada faktor lainnya, misalnya pengelolaan wilayah. “Adanya alih fungsi lahan dari tutupan vegetasi seperti hutan dan perkebunan menjadi daerah yang terbuka, seperti sawah atau wilayah tertutup bahan kedap air, seperti pemukiman dan jalan, akan meningkatkan potensi banjir.

“Air yang mengalir ke sungai akan lebih meningkat volumenya. Alih fungsi lahan juga menyebabkan sedimentasi yang besar pada sungai di daerah hilir. Ini membuat penampang sungai mengecil dan tidak mampu mengalirkan volume air yang meningkat,” kata Yanto.

Ia mengungkapkan ada beberapa hal yang perlu diantisipasi. Salah satunya adanya perubahan iklim akibat suhu bumi yang meningkat. Oleh karena itu, maka perlu menekan laju kenaikan suhu bumi dengan pengurangan gas emisi rumah kaca. (Dari berbagai sumber / HS-08)

 

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.