Banjir Di Semarang Mulai Surut

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi saat mengunjungi korban banjir di Pedurungan, Minggu (7/2/2021).

 

HALO SEMARANG – Setelah melakukan tinjauan beberapa wilayah yang dilaporkan terdampak hujan ekstrem, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengungkapkan banjir di wilayah yang dipimpinnya tersebut mulai surut.

Wali Kota Semarang yang akrab disapa Hendi itu menjelaskan, pemaksimalan pompa penyedot air yang ada pada sistem drainase di Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah, menjadi salah satu cara yang dilakukan.

Namun dirinya juga tak menampik, dalam menghadapi hujan esktrem dengan siklus 50 tahunan yang melanda Semarang tersebut, daya tampung air pada drainase yang dibangun tidak mencukupi. Sehingga butuh waktu dalam penanganan.

Hal itu disampaikannya saat memberi keterangan pers di Balai Kota Semarang, Minggu (7/2/2021).

“Jumat, mulai sekitar pukul 23.45 sampai Sabtu pukul 08.00, lalu berhenti, kemudian hujan lagi sampai pukul 13.00, yang menurut BMKG kategorinya adalah hujan ekstrem di tiga kecamatan. Kemudian 11 kecamatan kategorinya hujan sangat lebat, dan dua kecamatan lainnya hujan lebat,” terang Hendi.

“Dari semua itu kami mencatat ada 27 titik tanah longsor dan 29 titik banjir, dengan dua korban meninggal dunia karena longsor, dan dua karena tersengat aliran listrik,” detailnya.

Lebih lanjut Hendi menyebutkan, pasca terjadinya hujan ekstrem di Kota Semarang, hingga tinjauan pada hari Minggu (7/2/2021) titik banjir di wilayahnya sudah sangat berkurang. Terutama di jalan protokol semuanya sudah kering.

“Kami catat yang hari ini tinggal di Kecamatan Genuk, Pedurungan, juga daerah Semarang Barat. Fokus kami saat ini terus menyalakan pompa-pompa, dan semoga satu dua hari tidak terjadi lagi hujan ekstrem di Kota Semarang,” paparnya.

Wali Kota Semarang itu juga menceritakan, bahwa sebelumnya pada malam hari dia sempat mengunjungi daerah Muktiharjo Kidul dan tidak dapat masuk karena kondisi genangan air sangat tinggi. Namun pada tinjauannya yang kedua dia sudah dapat melintasi jalur tersebut.

“Untuk jumlah warga yang mengungsi juga sudah tidak banyak. Misalnya di Semarang Barat sudah tidak ada yang mengungsi. Lalu di Trimulyo, Genuk ada yang mengungsi pada satu dua musala, tapi jumlahnya juga tidak banyak. Satu musala hanya 10 sampai 20 keluarga. Kemudian di Tlogosari Kulon, Pedurungan juga tadi malam bahkan sudah ada yang bersiap untuk pulang,” tuturnya.

Sementara itu Hendi meluruskan, bahwa kondisi bencana banjir pada keseluruhan wilayah yang dipimpinnya tidak seperti yang dipikirkan oleh masyarakat di luar Kota Semarang.

“Kalau pengungsiannya tidak sebanyak yang dibayangkan kawan-kawan, jika ada yang mengungsi karena kemarin banjir tinggi itu karena ada permintaan masyarakat untuk dievakuasi keluar, yang setelah itu mereka tinggal di rumah saudaranya, penginapan, atau hotel,” pungkasnya.

Di sisi lain, Wali Kota Semarang juga menegaskan akan melakukan evaluasi untuk menambah kapasitas drainase di Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah.

“Evaluasinya pertama, kapasitas pompa harus ditingkatkan, karena kapasitas pompa yang kita punya itu hitungan hujan tahun 2013. Tapi dengan adanya hujan ekstrem seperti ini, pompa harus ditingkatkan agar dapat mengeringkan lebih cepat,” tekan Hendi.

“Kedua, memprioritaskan penambahan daya tampung saluran. Dan yang ketiga kami berharap pada percepatan normalisasi, termasuk pembangunan tanggul laut dari pemerintah pusat, melalui Kementerian PUPR,” imbuhnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.