in

Banjir dan Persoalan Buruknya Drainase Kota Semarang

Banjir di Semarang.

HALO SEMARANG – “Semarang Kaline Banjir”, penggalan lirik lagu berjudul Jangkrik Genggong itu menjadi gambaran nyata bagi Kota Semarang. Lagu yang dibawakan Ratu Keroncong, Waljinah ini seperti menjadi idiom riil setiap musim hujan. Tak hanya didominasi kawasan Semarang bawah, banjir kini juga merambah kecamatan-kecamatan yang notabene berada di kawasan Semarang atas, seperti Tembalang, Gunungpati, Ngaliyan, dan Semarang Barat.

Sejumlah wilayah di Kota Lunpia kini kerap sekali tergenang banjir. Jika di beberapa wilayah bagian bawah seperti Kaligawe dan Sawah Besar rawan genangan banjir, beberapa wilayah bagian atas seperti Tembalang dan Gunungpati terancam banjir bandang.

Buruknya sistem drainase di Kota Semarang, membuat banjir kerap melanda saat hujan deras dengan durasi waktu lama. “Pemkot akhir-akhir ini memang lagi gencar pembangunan dan peningkatan jalan. Tapi sayangnya tak dilengkapi dengan penataan drainase jalan. Sehingga saat hujan deras, banjir tak lagi menggenangi jalan tapi malah ke permukiman. Ini yang harus diantisipasi, pembangunan dan peningkatan jalan harusnya dibarengi dengan penataan drainase jalan,” kata Joko Santoso, Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Jumat (10/5/2019).

Seperti halnya kota-kota pantai lainnya di Indonesia, Semarang menghadapi permasalahanlaten berupa banjir, baik banjir musiman yang datang tiap musim hujan maupun banjir harian akibat rob. Berbagai usaha yang berkaitan dengan penanggulangan banjir, sudah banyak dilakukan pemerintah kota. Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, telah memerintahkan percepatan perbaikan drainase dan normalisasi beberapa sungai untuk penanganan banjir di wilayahnya.

Beberapa drainase di daerah rawan banjir, lanjut Hendrar Prihadi, seperti Tlogosari, Jalan Supriadi, seputar kawasan Simpanglima, Genuk, Sawah Besar sudah mendekati penyelesaian. Namun beberapa saluran sekunder seperti sepanjang ruas Jalan Kaligawe Raya juga masih harus dilakukan normalisasi. “Bertahap akan terus kami perbaiki agar tahun 2020 Semarang bebas banjir,” katanya beberapa waktu lalu.

Demikian juga dengan beberapa sungai, ujar Hendi, saat ini sedang berlangsung normalisasi secara menyeluruh. Setelah normalisasi Sungai Banjirkanal Timur selesai, sungai lain yakni Kali Tenggang, Sringin dan Sungai Babon juga dalam waktu bersamaan akan terselesaikan.

Sebagai informasi, menghadapi musim hujan normalisasi beberapa sungai dan perbaikan drainase di Kota Semarang terus dikebut. Pasalnya, karena hanya diguyur hujan dalam beberapa jam saja, beberapa wilayah sudah mulai tergenang. Seperti Jalan Raya Kaligawe, MT Haryono, perumahan dan perkampungan di Genuk, hingga Tlogosari.

Tidak hanya banjir musim hujan, ancaman banjir juga terjadi akibat air laut pasang (rob) terutama di daerah utara hingga radius 5 kilometer dari bibir pantai. Hal ini mengundang perhatian berbagai pihak apalagi hingga mengganggu akses jalur utama Semarang-Demak.

Hujan deras yang mengguyur Kota Semarang, Kamis (9/5/2019) malam misalnya, bahkan menyebabkan banjir di beberapa wilayah. Banjir merendam di sejumlah jalan protokol, seperti Jalan Jenderal Sudirman, sekitar Pasar Karangayu, hingga perempatan lampu merah menuju Jalan Puri Anjasmoro.

Ketinggian banjir mencapai 20-30 centimeter. Kemudian di Kecamatan Tugu, tepatnya di Mangkang, banjir juga lebih parah melimpas sampai badan jalan. Karena drainase jalan tersebut meluber dengan arus cukup kuat. Seperti di depan kantor Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, genangan banjir cukup tinggi hampir setengah lutut orang dewasa.

Akibatnya kendaraan yang melintas terganggu, karena banyak kendaraan roda dua yang mogok dan berhenti di tepi jalan. Hal ini membuat perhatian warga sekitar yang berjaga-berjaga sekitar lokasi. Bahkan ada beberapa rumah warga dan masjid di tepi jalan pun kemasukan air.

Air banjir juga memenuhi cekungan depan PT Sango di Kelurahan Wonosari dengan ketinggian lebih tinggi hingga 50 cm atau selutut orang dewasa, sehingga memacetkan lalu lintas. Karena kendaraan seperti truk trailer dan bus tidak berani menerobos banjir. Terpaksa, bererapa kendaraan besar melawan arus mengambil jalur dari arah barat menuju Semarang. Salah satu warga Tugu, Dadang mengatakan, saat pulang kerja tak berani melewati jalan banjir tersebut dan memilih berhenti sementara menunggu air banjir agak surut.

“Karena kalo saya nekat nerobos, takut mesin motor mati. Apalagi pas pake motor matic,” katanya.(HS)

Kota Semarang Raih Dua Penghargaan Sekaligus

Antisipasi Pergerakan Massa, KPU Provinsi Jateng Dijaga Ketat Polisi