in

Banjir Besar Eropa, Pakar Desak Pengurangan Emisi

Banjir Besar di Eropa Juli 2021. (Foto : Twitter @BezRegKoeln via @WMO)

 

HALO SEMARANG – Badai yang melanda Eropa beberapa waktu lalu, benar-benar telah menyebabkan kehancuran. Banjir besar5 di Eropa itu, bahkan menyebabkan ratusan orang meninggal.

Associated Press (AP), sebuah kantor berita nirlaba yang berkantor pusat di New York City, menyebutkan hingga Sabtu (17/7) korban meninggal mencapai 150 orang.

Bencana yang menurut para ilmuwan dipengaruhi oleh pemanasan global itu juga bagaikan sebuah ironi, karena beberapa saat sebelumnya, Uni Eropa mengumumkan rencana untuk menghabiskan miliaran euro, guna mengatasi perubahan iklim.

Hari itu awan besar berkumpul di atas Jerman dan negara-negara terdekat dan segera setelahnya melepaskan badai yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan menyebabkan kematian dan kehancuran di belakangnya.

Walaupun otoritas setempat, sebelumnya sudah berkali-kali mengeluarkan peringatan bahaya, tetapi banjir bandang tersebut tak urung membuat para politisi dan peramal cuaca terkejut.

Para ilmuwan iklim pun, memiliki dugaan kuat bahwa bencana besar tersebut berhubungan erat dengan pemanasan global dan perubahan iklim.

Mereka memang belum memastikan hubungan keduanya. Namun dugaan tersebut sedemikian kuat, karena sebelumnya telah terjadi gelombang panas ekstrem di Amerika Serikat dan Kanada.

“Ada hubungan yang jelas antara curah hujan ekstrem yang terjadi dan perubahan iklim,” kata Wim Thiery, seorang profesor di Universitas Brussels, Jumat lalu.

Stefan Rahmstorf, seorang profesor fisika laut di Universitas Potsdam, juga mengacu pada rekor panas baru-baru ini di AS dan Kanada. Menurut dia, suhu panas itu ekstrem, sehingga hampir mustahil terjadi tanpa pemanasan global.

“Ini adalah korban dari krisis iklim. Kita hanya akan melihat peristiwa cuaca ekstrem ini menjadi lebih sering,” kata Ketua Kelompok Penasihat Krisis Iklim, Sir David King.

Sementara itu bagi Kepala Kabinet Komisi Eropa, Diederik Samsom, bencana tersebut merupakan sebuah peringatan atau tanda bahaya. Menurut dia, diperlukan upaya sungguh-sungguh untuk mengurangi emisi karbon di seluruh dunia.

Industri perlu dipaksa untuk melakukan reformasi drastis, untuk membantu mengurangi emisi gas, yang menyebabkan pemanasan global sebesar 55% pada dekade ini.

“Orang-orang hanyut di Jerman, Belgia, dan Belanda juga. Kami mengalami perubahan iklim,” katanya, dalam konferensi dari think tank Pusat Kebijakan Eropa.

Para ilmuwan iklim menunjuk pada dua hal spesifik, yang telah berkontribusi pada bencana minggu ini.

Pertama, dengan setiap kenaikan suhu 1 derajat Celcius (1,8 derajat Fahrenheit), udara dapat menyerap 7 persen lebih banyak kelembapan. Hal ini dapat menahan uap air lebih lama, menyebabkan kekeringan, tetapi juga menyebabkan peningkatan curah hujan yang lebat dan masif setelah melepaskannya.

Faktor penentu lainnya, adalah kecenderungan bahwa badai dapat terjadi lebih lama dari biasanya. Mereka juga berpendapat, bahwa  pemanasan merupakan faktor yang berkontribusi.

Menurut profesor Wim Thiery dari Universitas Brussels, aliran angin kencang di ketinggian enam mil (hampir 10 kilometer), selama ini ikut berperan menentukan cuaca di Eropa.

Aliran angin ini dipengaruhi pula oleh perbedaan suhu antara daerah tropis dan Arktik. Tetapi ketika suhu di Eropa menghangat, Skandinavia akan mengalami gelombang panas yang tidak biasa.

Hal ini menyebabkan aliran angin pun melemah, menyebabkan jalur berkelok-keloknya berhenti, terkadang selama berhari-hari. Fenomena seperti ini sudah terlihat di Kanada, di mana hal itu berperan dalam munculnya “kubah panas”, di mana suhu naik menjadi 50 Celcius (122 Fahrenheit).

“Itu pula yang menyebabkan hujan lebat, seperti yang kita lihat di Eropa Barat,” katanya.

Lamia Messari-Becker, seorang profesor teknik di Universitas Siegen, mengusulkan agar dibuat sebuah lingkungan yang tahan terhadap perubahan iklim.

Pendapat senada disampaikan Dr Omar Baddour, kepala Divisi Kebijakan dan Pemantauan Iklim World Meteorological Organization (WMO) dalam situs resmi Organisasi Meteorologi Dunia itu.

“Sementara studi atribusi cepat telah menunjukkan hubungan yang jelas antara perubahan iklim yang disebabkan manusia, untuk episode gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya yang tercatat di Amerika Serikat Barat dan Kanada, pola cuaca di seluruh belahan bumi utara telah menunjukkan pola gelombang planet yang tidak biasa di musim panas ini,” kata dia.

Menurutnya, gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, menyebabkan kekeringan, kondisi dingin dan basah di berbagai tempat.

“Hubungan gangguan skala besar musim panas ini, dengan pemanasan Arktik dan akumulasi panas di lautan perlu diselidiki,” kata dia

Sementara itu berkaitan dengan banjir besar di Jerman, Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri RI, Judha Nugraha Sabtu (17/7) menyatakan belum ada laporan korban jiwa WNI.

“Terkait bencana banjir di wilayah Nordrhein-Westfalen dan Rheinland-Pfalz, Jerman, sampai saat ini tidak ada laporan korban jiwa WNI,” jelas Judha dalam pernyataannya.

Namun demikian KJRI Frankfurt telah mendata terdapat lima keluarga di Bad Neuenahr-Ahrwelle dan dua keluarga WNI di Erfstadt (Köln), yang terdampak banjir dan telah mengungsi ke rumah WNI atau fasilitas pemerintah setempat.

“Saat ini kondisinya baik dan memiliki logistik yang cukup,” tambahnya.

Judha menuturkan bahwa KJRI Frankfurt, memonitor terus perkembangan di lapangan dan upayakan berikan bantuan kepada WNI terdampak. (HS-08)

Share This

Amankan Aset dari Kejaran Lawan

2.500 Ton Beras dan 70.000 Paket Sembako Siap Didistribusikan ke Seluruh Indonesia