Banjir Belum Surut, Warga Pekalongan Merasakan Sensasi Pasar Apung

Warga di Pekalongan gunakan sampan terjang genangan banjir untuk jajakan sayur mayur keliling.

 

HALO PEKALONGAN – Meski dalam kondisi banjir, tak menyurutkan semangat dan tidak menjadi halangan bagi pasangan suami istri (pasutri) warga Pekalongan, untuk terus berusaha untuk menghidupi keluarganya.

Adalah Nuryanto (34) dan istrinya Hidayah (26) yang diketahui merupakan warga Bojongsari, RT 02 RW 06, Panjang Wetan, Pekalongan Utara.

Di saat banjir, mereka masih beraktivitas mencari nafkah dengan berjualan sayur-mayur sudah menjadi kegiatan sehari-hari.

Umumnya, pedagang sayur keliling jika berjualan menggunakan sepeda ontel, gerobak maupun sepeda motor roda dua yang sudah dimodifikasi.

Namun, bagi Hidayah yang sudah bertahun-tahun berjualan sayur keliling yang awalnya menggunakan sepeda ontel.

Kini terpaksa harus menggunakan sampan atau perahu kecil demi bisa berjualan sebab banjir yang melanda wilayah Pekalongan hingga kini belum juga surut.

“Biasanya keluar masuk perumahan warga yang tergenang air. Keliling dari perumahan satu ke perumahan lainnya. Sejak terjadi banjir yang hingga kini belum surut, saya bersama suami tetap berjualan sayur-mayur dengan menggunakan perahu kecil ini,” ungkap Hidayah, Selasa (23/2/2021).

Ibu dua anak inipun bercerita, untuk bisa belanja dagangan sayur mayur, karena menggunakan perahu, maka dirinya terpaksa berjalan dari rumahnya di Bojongsari, Panjang Baru ke Pasar Sorogenen.

“Setiap hari, sebelum saya keliling menjajakan dagangan ini ke permukiman-permukiman warga, pukul 02.00 WIB dini hari, saya berjalan dulu dari rumah ke pasar. Satu jam kemudian baru tiba di pasar. Lalu kulakan (belanja) sayuran,” jelasnya.

Selepas pulang dari pasar, lanjut Hidayah, biasanya suami sudah menunggu di titik genangan air dengan menggunakan perahu.

“Barang dagangan berupa sayur mayur lalu saya naikan di atas perahu, suami yang menarik perahu. Dari kampung ke kampung, keliling. Sampai jam satu siang baru bisa kembali pulang ke rumah,” tutur Hidayah sembari melayani warga yang membeli sayur mayur dagangannya.

Bagaikan pemandangan sebuah pasar apung seperti yang ada di Kalimantan, penjual sayur melayani pembeli tetap diatas perahu.

Hal ini akibat banjir yang menerjang Pekalongan Kota dan hingga belum juga surut.

Bagi warga yang sudah menjadi pelanggan Hidayah dan suaminya mengaku salut, atas perjuangan dan usaha yang dilakoni pasutri tersebut. Meski di tengah banjir tetap semangat dalam berjualan.

Khususnya warga yang tidak mengungsi, dan memilih tetap bertahan di rumah walaupun banjir merendam permukiman.

Salah satunya Mulyani (53), warga Perumahan Panjang Indah, RT 06 RW 01, Kelurahan Panjang Baru yang mengaku sudah menjadi pelanggan lama dagangan yang dijual Hidayah.

“Kalau tidak ada pedagang sayur, lalu kita mau makan dari mana, sudah jelas akses jalannya saja dipenuhi genangan air tingginya sepaha. Jelas kita tidak bisa keluar kemana-mana. Justru dengan adanya Bu Hidayah kita merasa terbantu,” ungkapnya.

Menurutnya, saat banjir tinggi dan adanya penjual sayur mayur yang dengan menggunakan perahu seakan hidup di Kalimantan.

“Seperti di pasar apung Kalimantan, penjual sayuran di atas kapal, ada warga yang datang juga dengan menggunakan alat seperti perahu,” pungkas Mulyani. (HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.