Bambang Pacul: Rem Rasa Rakus!

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah, Bambang “Pacul” Wuryanto saat memberikan keterangan pers usai memimpin Gowes Bareng Banteng Jateng di Kantor DPD PDIP Jawa Tengah di Semarang, Minggu (28/2/2021).

 

HALO SEMARANG – Untuk mencegah kasus korupsi, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah, Bambang “Pacul” Wuryanto meminta kader PDIP yang saat ini menjabat sebagai pimpinan daerah di Jawa Tengah untuk bisa mengerem rasa rakus.

Hal itu ditegaskannya saat diminta memberi tanggapan tentang beberapa kader PDIP Perjuangan yang baru saja dilantik menjadi pimpinan daerah di beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Menurutnya, untuk memberi pemahaman kepada orang atau pejabat pemerintah agar tidak kurupsi itu menurutnya memang sulit. Yang bisa dia lakukan adalah mengingatkan kader untuk mengerem rasa rakus.

- Advertisement -

“Korupsi itu terjadi karena perilaku orang masing-masing. Sulit kalau tidak ada kesadaran diri sendiri. Namun yang kami tekankan pada para kader yang saat ini memimpin daerah di Jateng, untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila di dirinya. Kalau melarang saja, tentu susah. Karena rasa rakus itu ada di dalam dirinya,” katanya, usai memimpin Gowes Bareng Banteng Jateng di Kantor DPD PDIP Jawa Tengah di Semarang, Minggu (28/2/2021).

Dirinya juga mencontohkan kasus korupsi yang saat ini menjerat Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah. Menurutnya, Nurdin Abdullah merupakan pribadi yang baik. Dirinya juga tak menyangka jika sosok yang diusungnya itu terjerat kasus dugaan tindak pidana korupsi, yang saat ini masih ditangani KPK.

Penangkapan Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah oleh KPK juga mengejutkan PDI Perjuangan yang merupakan partai pengusung di Pilgub Sulsel 2018.

PDIP menganggap ada kemungkinan Nurdin memang lupa diri atau ada yang berusaha menjatuhkan.

Ia mengatakan Nurdin dikenal orang yang santun dan religius.

“Sepengetahuan saya Gubernur Sulsel ini gubernur yang santun, religius, juga sering berikan ceramah. Menurut saya, feeling saya ini orang baik. Tetapi orang baik di dalam politik tidak cukup, kadang-kadang lupa,” katanya.

“Sebagai orang politik saya berprasangka, bisa juga kekuasaannya diincar orang lain, bisa. Dan alat untuk menjatuhkan orang hari ini memakai penegakan hukum. Harus disadari, diduga, kadang-kadang lho ya, saya tidak katakan semuanya. Kadang alat penegakan hukum dipakai untuk menjatuhkan orang kan bisa. Karena ini gubernur, saya tidak bercuriga tapi namanya orang politik boleh berprasangka,” lanjutnya.

Namun pria yang akrab disapa Bambang Pacul itu menegaskan, saat ini proses hukum harus dipatuhi dan diikuti dengan baik. Jika memang bersalah maka dihukum.

“Tapi kita semua harus tetap tegak lurus pada hukum, kalau dihukum, jalani baik-baik,” tegas pria yang juga Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP PDI Perjuangan (PDIP) ini.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.