in

Baju Adat Jadi Simbol Menghormati Keberagaman

Bupati Boyolali M Said Hidayat mengenakan baju adat Jawa beskap landung putih, dipadu bawahan jarik motif coklat dan dilengkapi blangkon dan Wakil Bupati (Wabup) Boyolali, Wahyu Irawan mengenakan baju adat Bali, beserta jajaran Forkompimda Kabupaten Boyolali mengikuti secara virtual upacara peringatan Hari Lahir Pancasila dari ruang Merbabu Kantor Bupati Boyolali. (Foto : Boyolali.go.id)

 

HALO SEMARANG – Simbol-simbol penghormatan terhadap keberagaman, ditunjukkan Bupati Boyolali M Said Hidayat dan Wakil Bupati (Wabup) Boyolali, Wahyu Irawan, ketika mengikuti Hari Lahir Pancasila secara Nasional, kemarin dari ruang Merbabu Kantor Bupati Boyolali.

Bupati Boyolali M Said Hidayat mengenakan baju adat Jawa beskap landung putih, dipadu bawahan jarik motif coklat dan dilengkapi blangkon. Adapun Wakil Bupati (Wabup) Boyolali, Wahyu Irawan mengenakan baju adat Bali.

Bupati Boyolali M Said Hidayat mengatakan pakaian adar yang dikenakan Bupati dan Wakil Bupati tersebut merupakan simbol dari penghormatan terhadap keberagaman di Indonesia.

“Di antara tanah yang kita pijak ini, di dalamnya ada budaya-budaya yang berbeda. Tentunya semangat inilah yang kami tunjukkan,” kata Bupati Said.

Peringatan Hari Lahir Pancasila tersebut, juga sebagai momentum untuk kembali membumikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga Bupati Said mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memahami dan melaksanakan Pancasila.

“Semoga dapat membangun semangat persatuan dan semangat kegotongroyongan, semangat di antara kita semua. Dan khususnya di Kabupaten Boyolali, terus bersemangat bersatu padu untuk membangun Kabupaten Boyolali dengan penuh kerukunan,” ajak Bupati Said.

Upacara memperingati hari lahir Pancasila, juga diikuti secara virtual oleh Bupati Pemalang Mukti Agung Wibowo dan Wakil Bupati Mansur Hidayat, bersama Forkopimda dari gedung Sasana Bhakti Praja Pemalang. Kegiatan tersebut juga dihadiri Sekda M Arifin, Kepala Bakesbangpol Sujarwo beserta segenap jajarannya.

Kegiatan serupa juga dilaksanakan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Klaten, beserta jajaran Pemerintah Kabupaten Klaten, secara virtual.

Dalam kegiatan ini seluruh peserta upacara juga mengenakan berbaju adat Jawa lengkap. Untuk laki-laki mengenakan beskap dan perempuan menggunakan kebaya.

Bupati Sukoharjo, Hj Etik Suryani SE MM dan Wakil Bupati Drs H Agus Santosa bersama pejabat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), juga mengikuti upacara secara virtual, dari lantai 10 Kantor Terpadu Menara Wijaya.

Terlihat pula Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mengikuti upacara tersebut. Pada acara ini, Bupati, Wakil Bupati, dan pejabat lainnya terlihat mengenakan busana daerah, yakni beskap untuk laki-laki dan kebaya untuk perempuan.

Tidak ada acara lain selain mengikuti upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar oleh pemerintah pusat. Usai upcara selesai, bupati dan pejabat lainnya langsung meninggalkan lokasi acara.

“Hari ini memang acaranya hanya mengikuti upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar pemerintah pusat secara virtual,” ungkap Bupati Hj Etik Suryani SE MM.

Pada saat yang sama, Bupati Kebumen Arif Sugiyanto dan Wakil Bupati Ristawati Purwaningsih, mengikuti upacara secara virtual dari Gedung F Komplek Sekretariat Daerah Kabupaten Kebumen.

Selain para pejabat, seluruh ASN di Pemkab Kebumen juga mengikuti upacara itu secara virtual. Dalam kesempatan ini, mereka juga mengenakan busana adat khas Kebumen.

Sementara itu dari Semarang, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membumikan Pancasila.

Ajakan tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo seusai mengikuti upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila 2021, yang digelar secara daring dengan inspektur upacara Presiden Joko Widodo.

Dalam acara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen beserta Forkopimda, di antaranya Pangdam IV/Diponegoro dan Kapolda Jateng, turut hadir mendampingi Ganjar.

“Instruksi Presiden sangat jelas dan hanya satu, membumikan Pancasila. Membumikan itu menjadi tugas kita semuanya, seluruh elemen masyarakat, agar Pancasila tidak menjadi konsep yang seolah-olah tidak bisa diimplementasikan. Itu sebenarnya pasti bisa dilakukan karena Pancasila digali dari nilai-nilai yang ada,” kata Ganjar.

Ganjar menjelaskan, implementasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari bisa dilakukan dengan tindakan-tindakan nyata. Sebagai contoh terkait implementasi sila pertama ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’, bisa dilakukan dengan saling menghormati antarpemeluk agama.

Begitu juga dengan sila kedua, ‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’, dapat diwujudkan dengan saling membantu mereka yang memerlukan.

“Yuk kita saling menghormati antaragama, jangan saling meniadakan. Kemudian kita punya rasa, tenggang rasa, maka kemudian saling membantu apalagi dalam kondisi Covid-19 seperti ini, bantulah yang di sekitarnya. Itu contoh saja,” ungkap Ganjar.

Lebih lanjut, dalam kondisi pandemi seperti ini implementasi sila ketiga ‘Persatuan Indonesia’ sangat diperlukan. Nilai persatuan itu dibutuhkan untuk menghadapi tantangan yang kian beragam, baik dalam hal ideologi maupun ilmu pengetahuan teknologi dan lainnya.

Nilai persatuan ini juga menjadi bekal untuk mewujudkan masyarakat yang bijaksana dan mengedepankan musyawarah sehingga bisa tercapai keadilan sosial bagi seluruhnya.

“Saya kira itu yang tadi menjadi catatan penting. Maka narasi dan contoh baik musti dimunculkan, baik di dunia nyata maupun dalam dunia virtual, sehingga masyarakat memiliki semangat yang baik juga,” kata Ganjar.

Dari Jakarta, Presiden Joko Widodo, saat memimpin upacara meminta bangsa Indonesia mengokohkan nilai nilai Pancasila dalam bermasyarakat, dalam berbangsa, dan dalam bernegara.

Kemudian Jokowi menyampaikan pesan, walaupun Pancasila telah menyatu dalam kehidupan bangsa sepanjang Repubilk Indonesia ini berdiri, namun tantangan yang dihadapi Pancasila tidaklah semakin ringan.

“Globalisasi dan interaksi antarbelahan dunia, tidak serta merta meningkatkan kesamaan pandangan dan kebersamaan,” kata Jokowi.

Jokowi menegaskan, yang harus diwaspadai adalah meningkatnya rivalitas dan kompetisi, termasuk rivalitas antarpandangan, rivalitas antarnilai-nilai, dan rivalitas antarideologi.

“Memasuki berbagai lini kehidupan masyarakat dengan berbagai cara dan berbagai tragedi, revolusi industri telah menyediakan berbagai kemudahan dalam berdialog, dalam berinteraksi, dan berorganisasi dalam lintas negara,” ucap Jokowi.

Jokowi menambahkan ketika dunia sudah sampai pada era koneksifitas 5G, interaksi antarmasyarakat di berbagai belahan bumi akan semakin mudah dan cepat. Kemudahan ini bisa digunakan oleh ideologi-ideologi radikal transnasional, untuk merambah ke seluruh pelosok Indonesia, ke seluruh kalangan, ke seluruh usia, tanpa mengenal lokasi dan waktu.

“Untuk menghadapi semua ini, perlu waspada dan pendalaman nilai-nilai Pancasila tidak bisa dilakukan dengan cara-cara biasa, diperlukan cara-cara baru yang luar biasa memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama revolusi industri”, kata Jokowi.

Ia juga menyampaikan, pada revolusi industri 4.0, Pancasila harus bisa menjadi fondasi dalam mengembangkan Iptek yang berkeindonesiaan.

“Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila, Selamat membumikan Pancasila dalam berkehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” kata dia. (HS-08)

Share This

Cek Kualitas Jalan, Bupati Dan Wabup Turun Ke Lapangan

Grand Launching Virtual Investment Gallery STIE Bank BPD Jateng