Badai Seroja Terjang NTT, Puluhan Orang Meninggal

Foto : BNPB.go.id

 

HALO SEMARANG – Cuaca buruk yang memicu banjir bandang dan longsor di Nusa Tenggara Timur, menyebabkan puluhan orang meninggal.

Data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut pada Senin (05/04) pukul 05.00 WIB, bencana banjir bandang di Kabupaten Flores Timur menyebabkan sedikitnya 44 orang meninggal dunia dan 24 lainnya hilang di Kabupaten Flores Timur.

Selain mereka, sebanyak 256 jiwa warga mengungsi di Balai Desa Nelemawangi dan sejumlah warga lainnya mengungsi di Balai Desa Nelelamadike.

Banjir bandang juga melanda Kabupaten Lembata, menewaskan 11 warga dan 16 lainnya hilang. Dengan demikian, hingga Senin (05/04) pagi, total jumlah korban yang meninggal dunia di Flores Timur dan Lembata, tercatat mencapai 55 orang.

Bencana juga mengakibatkan puluhan rumah hancur, infrastruktur rusak, dan komunikasi tersendat. Internet di wilayah bencana juga tidak stabil, hingga menyulitkan berbagai pihak untuk melaporkan kondisi dari waktu ke waktu.

Hingga kini berbagai unsur, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, dan Polri terus berupaya melakukan penyelamatan serta membantu warga terdampak.

Sementara itu pagi tadi, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr (HC) Doni Monardo beserta rombongan, juga melanjutkan perjalanan dari Maumere menuju Larantuka, melalui jalur darat.

Perjalan darat yang diperkirakan memakan waktu tiga hingga lima juam tersebut, terpaksa dilakukan karena cuaca belum memungkinkan untuk penerbangan.

“Seharusnya akan terbang lagi ke Larantuka setelah refueling, namun cuaca di Larantuka tidak memungkinkan. Sehingga kami putuskan menggunakan rute jalur darat,” kata Doni, di Bandara Maumere, NTT, Senin (5/4), seperti dirilis BNPB.go.id.

Perjalanan yang harus ditempuh Doni Monardo bersama rombongan untuk mencapai titik lokasi banjir bandang, juga masih akan menghadapi kendala hal lain, yakni penyeberangan laut menuju Pulau Adonara.

Menurut informasi dari otoritas pelabuhan penyeberangan setempat, cuaca buruk masih berpotensi terjadi, sehingga pelayaran belum sepenuhnya dapat dilakukan.

Kendati mengalami berbagai kendala, namun Doni akan tetap melanjutkan misi kemanusiaan tersebut, tentunya dengan menunggu kepastian cuaca dari otoritas.

Dalam rangka mempercepat penanganan bencana banjir bandang di Flores Timur, Doni juga membawa beberapa bantuan yang akan diserahkan. Bantuan itu dibawa Doni langsung dari Jakarta bersama pesawat yang ditumpanginya.

Adapun rincian jenis bantuan yang dikirimkan berupa; makanan siap saji sebanyak 1.002 paket, makanan tambahan gizi 1.002 paket, makanan lauk pauk 1.002 paket, selimut 3.000 lembar, sarung 2.000 lembar, alat tes cepat antigen 10.000 unit, masker kain 1.000 lembar dan masker medis 1.000 lembar.

“Bersama dengan pesawat juga ada barang-barang logistik yang dibutuhkan seperti selimut, makanan siap saji hingga obat-obatan,” jelas Doni.

Turut beserta rombongan, Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi, Anggota DPD RI Yorrys Raweyai dan Angelius Wake Koko, Perwakilan Kementerian/Lembaga terkait dan pejabat serta staf BNPB.

Sebagaimana informasi yang telah disampaikan sebelumnya, bencana banjir bandang yang terjadi di Flores Timur telah memakan korban sebanyak 44 orang meninggal dunia, 26 orang hilang, 9 orang luka-luka, 80 KK terdampak dan 256 jiwa mengungsi di Balai Desa Nelemawangi. Data mengenai para korban dan masyarakat terdampak masih dapat berubah mengikuti perkembangan di lapangan.

Kemudian kerugian materiil yang dilaporkan meliputi 17 unit rumah hanyut, 60 unit rumah terendam lumpur, 5 jembatan putus, puluhan rumah terendam banjir di Kecamatan Adonara Barat dan ruas jalan Waiwadan-Danibao dan Numindanibao terputus di empat titik.

 

Sementara itu, menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bencana besar tersebut, dipicu oleh terbentuknya bibit siklon tropis 99S di NTT, yang kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Seroja.

Menurut laporan Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada Senin, (5/4) pukul 07:00 WIB, posisi badai tropis tersebut masih berada di 10.1 LS, 122.4 BT atau sekitar 75 km sebelah timur Laut Sabu.

Badai bergerak ke arah barat daya, dengan kecepatan 3 knots (6 km/jam) menjauhi wilayah Indonesia. Adapun kecepatan angin maksimun, 40 knots atau 75 km/jam.

Diperkirakan, walaupun kecepatannya meningkat, namun gaya Coriolis akan membuat badai Seroja terus menjauhi Indonesia.

Adapun dampak dari siklon tropis ini, antara lain potensi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat  lebat disertai kilat atau petir serta angin kencang, di wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Juga hujan dengan Intensitas sedang hingga lebat, disertai kilat atau petir serta angin kencang di wilayah Bali, Sulawesi Selatan dan sebagian Sulawesi Tenggara.

Gelombang laut dengan ketinggian 1.25 – 2.5 meter di Selat Sumba bagian timur, Selat Sape, Laut Sumbawa, Perairan utara Sumbawa hingga Flores, Selat Wetar, Perairan Kepulauan Sabalana hingga Kepulauan Selayar, Perairan selatan Baubau – Kepulauan Wakatobi, Perairan Kepulauan Sermata – Leti, Laut Banda, Laut Arafuru bagian barat.

Gelombang laut dengan ketinggian 2.5 – 4.0 meter di Selat Sumba bagian barat, Laut Flores, Perairan selatan Flores, Perairan selatan Pulau Sumba, Selat Ombai.

Gelombang laut dengan ketinggian 4.0 – 6.0 meter di Laut Sawu, Perairan Pulau Sawu, Perairan Kupang- Pulau Rotte

Gelombang laut dengan tinggi lebih dari 6.0 meter berpeluang terjadi di Samudra Hindia selatan NTT, Laut Timor selatan NTT. (HS-08)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.