in

Ayo Buktikan, Jangan Cuma Wacana

Alwin Basri/dok.

 

PEMBINAAN sepak bola di mana pun selalu diawali dengan memoles pemain-pemain muda. Namun, saat ini ada kecenderungan untuk melalaikan pembinaan pemain muda itu.

Memang ada beberapa Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI yang tetap konsisten dalam memoles bibit-bibit pemain muda.

Salah satu Asprov PSSI yang konsisten dengan hal itu adalah Jatim.

Nah, bagaimana dengan Asprov PSSI Jateng?

Dalam salah satu berita di harian terkemuka di Jateng, saya pernah membaca komentar Ketua Asprov PSSI Jateng, Edi Sayudi yang memastikan kompetisi yunior dan usia muda bakal diputar.

Ini jadi angin sejuk bagi pembina usia remaja dan usia muda.

Namun, hingga sekarang, janji itu hanya jadi wacana.

Saya melihat Asprov PSSI Jateng tidak punya kemauan untuk menggelar kompetisi yunior dan usia muda.

Padahal, para pembina dan pemain usia muda menaruh harapan besar untuk kompetisi ini.

Masyarakat pun sangat berharap PSSI Jateng bisa menjalankan kompetisi pada level ini.

Sebab, kompetisi tidak saja menjadi ajang pembuktian hasil pembinaan, tapi juga dapat menggerakkan roda ekonomi.

Saat ini PSSI sudah merancang Liga 1, Liga 2 dan Liga 3, tapi Liga Remaja belum diagendakan.

Buat PSSI Jateng, tampaknya mereka hanya ingin bermain di zona aman, dan tak mau mengambil risiko.

Hal ini sungguh disayangkan karena Jateng merupakan salah satu gudang bibit-bibit pesepak bola bertalenta.

Andai PSSI tidak menggelar kompetisi/turnamen liga remaja dan usia muda, mestinya, PSSI Jateng dapat membuat turnamen sendiri, setidaknya memenuhi janji Ketua Asprov PSSI Jateng pada masyarakat.

Menjadi pemimpin sepak bola di Jateng kalau mau bekerja beneran memang tidak mudah.

Menurut saya, menggelar kompetisi yunior dan usia muda hukumnya adalah wajib.

Banyak cara untuk dapat mewujudkannya.

Jika mau bergerak, berkreasi dan berinovasi, saya yakin kompetisi usia muda bisa digulirkan.

Selain menjalin kerja sama dengan pihak-pihak lain sebagai sponsor, pimpinan PSSI Jateng juga harus mau berkorban, termasuk memberikan bantuan secara pribadi.

Yang saya tahu, membina sepak bola tidak bisa gratisan dan melulu menggantungkan uluran dana dari pemerintah.

Ingat pepatah, jer basuki mawa beya (semua keberhasilan membutuhkan biaya).(HS)

(Alwin Basri, Wakil Bendahara BJL 2000 dan Direktur Akademi BJL 2000 Semarang)

Share This

Ini Solusi Penanganan Limbah Minyak Jelantah dari LICIN Indonesia

Kreatif, Mahasiswa Psikologi Unissula Tawarkan Solusi Kebahagiaan