in

Atur Pengambilan ABT, Dewan Dorong Pemkot Semarang Koordinasi Dengan Provinsi

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Joko Santoso.

 

HALO SEMARANG – Kebijakan terkait pengambilan air bawah tanah (ABT) di Kota Semarang mendesak untuk segera diberlakukan. Pasalnya, penurunan tanah di Ibu Kota Jawa Tengah ini mencapai 5 sampai 10 centimeter per tahunnya. Bahkan, ada enam kecamatan dianggap masuk dalam zona merah, dan dikhawatirkan akan tenggelam jika tidak dilakukan pembatasan.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Joko Santoso mengatakan, eksplorasi air bawah tanah (ABT) harus dibatasi secara ketat. Pemkot Semarang, kata dia, harus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah terkait pengelolaan air bawah tanah, karena menjadi kewenangan dari provinsi.

“Enam daerah di Semarang bawah ini bisa dibilang zona merah, yakni Kecamatan Tugu, Semarang Barat, Semarang Utara, Semarang Timur, Gayamsari, dan Kecamatan Genuk. Pengambilan air tanah di sana harus dibatasi,” katanya, Kamis (14/10/2021).

Langkah antisipasi agar Semarang bagian bawah tidak tenggelam air laut, kata politikus Partai Gerindra ini, harus ada larangan tegas mengambil ABT di wilayah zona merah. Serta mewajibkan masyarakat mulai menggunakan air yang dikelola oleh PDAM.

“Adanya SPAM Semarang Barat ini sudah bisa mencukupi kebutuhan air bersih masyarakat. Pemkot Semarang dan PDAM pun harus memberikan kemudahan bagi warga dan memberikan harga murah agar warga tidak lagi mengambil air tanah,” jelasnya.

Gerakan penanaman pohon, lanjut dia, juga harus digenjot di wilayah yang sudah masuk zona merah ini agar bisa menjadi wilayah resapan. Kebijakan penggunaan sumur artetis di kalangan industri ataupun hotel, juga harus dikurangi agar penurunan muka tanah tidak lebih parah.

“Di sini harus ada pengawasan khusus misalnya industri wajib menggunakan 75 persen kebutuhan air dengan PDAM,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Umum (Dirum) PDAM Tirta Moedal, Farchan Hilmie mengatakan, terkait masalah penggunaan ABT atau sumur artetis untuk industri, saat ini pihaknya tidak hanya punya program menambah pelanggan domestik atau rumah tangga, tapi mendekati perusahaan-perusahaan di kawasan industri untuk memakai air PDAM. Karena adanya anjuran pemerintah provinsi yang membatasi penggunaan ABT, karena memiliki wewenang di pemerintah provinsi Jawa Tengah.

“Untuk total pelanggan PDAM sampai saat ini yang aktif ada sebanyak 176 ribu pelanggan. Dan PDAM tahun 2021 ini menargetkan sebanyak 14 ribu sambung baru, sedangkan realisasi hingga kini belum mencapai 50 persen,” pungkasnya.(HS)

Share This

Tingkatkan Daya Saing Industri Impor

Berawal Dari Saling Pandang, Dua Kelompok Pemuda di Semarang Utara Terlibat Tawuran