in

Atasi Problem, ATM Sampah Dikenalkan SSN di Weleri

Camat Weleri, Dwi Cahyono bersama para kepala desa, pengurus BUMDes dan perwakilan sekolah mencoba ATM sampah di aula Kecamatan Weleri, Senin (23/10/2023).

HALO KENDAL – Permasalahan sampah di Kabupaten Kendal menjadikan Pemerintah Kecamatan Weleri menerima kunjungan Sekolah Sampah Nusantara (SSN) dan Mountrash untuk memberikan Sosialisasi Digitalisasi Penanganan Sampah, di aula Kecamatan Weleri, Senin (23/10/2023).

SSN merupakan Lembaga pendidikan dan pusat studi persampahan, yang didirikan untuk mengedukasi masyarakat dalam rangka menjaga kelangsungan dan kelestarian lingkungan hidup, termasuk pengelolaan, dan pengolahan sampah.

Diresmikan oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tanggal 15 Maret 2021 di Bumi Perkemahan dan Wisata Cibubur, Jakarta Timur, saat ini kantor sekretariat SSN berada di Gedung Museum Manggala Wanabakti, Jl Gatot Subroto, Jakarta.

Acara dibuka Camat Weleri, Dwi Cahyono Suryo, dan dihadiri Founder SSN, Tutik Nuraini bersama Siti Chomsah dari SSN, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kendal, para kepala desa, perangkat desa, perwakilan pengurus BUMDes dan perwakilan dari sekolah di Kecamatan Weleri.

Camat Weleri mengatakan, kondisi terkini di Kendal, berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kendal, timbunan sampah per hari sebesar 400 ton. Dengan rincian 150 ton dibuang ke TPA, dan sisanya dikelola masyarakat.

“Dari data DLH Kendal, 60 persen sampah organik masuk ke TPA, sedangkan 72 persen masyarakat tidak peduli terhadap sampah. Target 70 persen penanganan sampah dan 30 persen pengurangan sampah di tahun 2025. Saat ini yang masih berjalan yaitu kumpul angkut buang,” ujarnya.

Dampaknya, lanjut Dwi, munculnya anggapan, sampah bukan lagi urusan masyarakat/warga, tetapi menjadi urusan pemerintah dan petugas sampah.

“Jadinya sampah masih ada di mana-mana, sejumlah warga masih pelihara budaya nyampah di sungai, warga merasa tidak merasa wajib memilah atau menempatkan sampah sesuai jenis, serta tidak adanya kepedulian terhadap sampah,” tandasnya.

Dwi menambahkan, pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan peraturan prisip pengelolaan sampah dengan 3R. Yaitu reduce (pengurangan), resue (gunakan kembali) dan recycle (daur ulang).

“Untuk itulah, dengan adanya kunjungan dari Sekolah Sampah Nusantara, kita bisa mengetahui dan mencoba inovasi penanganan sampah secara digital itu seperti apa. Sehingga diharapkan, dapat memberikan solusi pengurangan sampah di Kabupaten Kendal,” imbuhnya.

Sementara Titik Nuraini selaku Founder SSN mengatakan, sudah berbagai cara dilakukan elemen masyarakat untuk menangani sampah, yang bahkan menjadi program dari pemerintah. Salah satunya dengan membentuk bank sampah.

“Bank sampah, secara edukasi dapat mengubah perilaku dan pola pola pikir dalam pengelolaan sampah. Kemudian berbasis masyarakat, yang dibentuk dan dikelola oleh masyarakat, badan usaha dan atau pemerintah daerah. Kemudian menerapkan konsep 3R dan ekonomi sirkular, dengan menjadikan sampah sebagai sumber daya bernilai dan mampu menciptakan wirausaha baru,” bebernya.

Untuk mekanisme bank sampah, Titik memaparkan, pertama Disetorkan, yaitu sampah yang telah dipilah ke bank sampah terdekat. Dicatatkan, hasil penimbangan langsung dicatat ke buku tabungan sampah. Selanjutnya Pengiriman, yaitu dikirim ke pengelola atau industri atau daur ulang.

Di era digitalisasi saat ini, menurutnya semua akan mengalami perubahan, termasuk permasalahan sampah. Salah satunya dengan transformasi digital. Ada tiga kunci utama transformasi digital penanganan sampah. Yaitu, daya massa, teknologi serta kecerdasan dan kesadaran kolektif.

Titik menjelaskan, daya massa, yaitu mengerahkan segenap sumber daya manusia di manapun untuk menjadi bagian dari gerakan ini. Karena sumber data terbaik adalah masyarakat.

Kemudian teknologi, yaitu memanfaatkan teknologi dan gadget yang ada di masyarakat dan mendorong kecerdasan kolektif untuk berinovasi mengembangkan, menggunakan internet, serta kecerdasan buatan dan untuk mendorong disrupsi dalam pengelolaan sampah kolektif.

“Sedangkan untuk kecerdasan dan kesadaran kolektif, yaitu mendorong kecerdasan dan kesadaran bersama akan pentingnya penanganan sampah secara cepat, terintegrasi, menyeluruh dan berkelanjutan. Selain itu untuk mendorong kesadaran, tidak ada sampah jika dipilah, karena memiliki ekonomi dan dapat menjadi sumber penghasilan,” imbuh Titik.

Acara kemudian dilanjutkan dengan melihat cara menabung di ATM sampah dropbox digital sekaligus para hadirin mempratikkan langsung dipandu petugas dari Sekolah Sampah Nusantara.

“Dengan bank sampah digital, transaksi dapat dilakukan secara digital dengan menggunakan aplikasi real time online. Karena semua akan terdata, tercatat dan terlacak setiap transaksi, termasuk nilai insentif yang tertera. Yang jelas lebih transparan dan akurat, karena insentif dan jumlah transaksi dapat dilihat secara langsung. Baik satuan ataupun kilogram,” tandas Titik.

“Caranya dengan mendownload dan registrasi aplikasi Dbx-Mountrase di playstore, kemudian scan QR pada dropbox dengan aplikasi yang sudah didownload tadi, dan tinggal masukkan botol ke dalam ATM dropbox digital,” pungkasnya.

Pada kesempatan tersebut, SSN juga menyerahkan hibah dropbox lengkap beserta peralatan aplikasi kepada Pemerintah Kecamatan Weleri senilai Rp 7,5 juta.(HS)

Pj Gubernur Jateng Minta TPID dan Satgas Pangan Intensif Pantau Stabilitas Harga Bahan Pokok

Berawal Dari Nongkrong, Bapak-Bapak di Perum Baru Brangsong Manfaatkan Lahan Kosong Jadi Kebun Wisata