in

Angka TBC di Jateng Masih Tinggi, Sukirman Minta Pemprov Lebih Tanggap

Wakil Ketua DPRD Jateng, Sukirman saat bertemu konstituen di wilayah Pekalongan, belum lama ini.

HALO SEMARANG – Angka kasus tuberculosis (TBC) di Jawa Tengah ternyata masih sangat tinggi. Data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, pengelolaan TBC di provinsi ini menduduki peringkat pertama nasional. Temuan kasus TBC terhitung tinggi, tahun 2023 ada temuan kasus TBC mencapai 85.071 (orang).

Wakil Ketua DPRD Jateng, Sukirman menyoroti masih tingginya kasus TBC di wilayahnya ini. Pasalnya, TBC merupakan penyakit yang berisiko pada kematian. “Ditambahkan, tidak hanya membunuh, yang memberatkan adalah jika TBC menimpa anak-anak. Apalagi, jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, peningkatan kasus TBC cukup tajam,” katanya, baru-baru ini.

Dia juga mengingatkan pemprov, khususnya Dinas Kesehatan untuk lebih sigap dan tanggap, dan diperlukan terobosan-terobosan dalam penanganan kasus penyakit menular ini.

Ia mengatakan, penanganan secara khusus dan konsisten harus dilakukan. Dinkes diminta terus memantau proses pengobatan untuk memastikan sampai sejauh perkembangan kondisi pasien yang menderita TBC.

“Upaya-upaya penanggulangan perlu sekali dilakukan, selain konsisten dalam memantau pengobatan pasien, kesehatan rumah serta lingkungan sekitar harus menjadi perhatian juga agar bisa menekan penularan kasus TBC,” kata politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut.

Dikatakan, TBC merupakan penyakit kronis yang memiliki daya tular dan tingkat risiko kematian tinggi yang disebabkan faktor kebal obat. Selain pengobatan, upaya pencegahan sebelum terjangkit penyakit juga menjadi hal utama yang harus dipersiapkan. Apalagi penanganan TBC membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu berkisar antara 6 bulan hingga 1 tahun.

“Berkaitan dengan pencegahan, tentunya kami ingin dinas terkait bisa melakukan terobosan-terobosan agar kasus penyakit menular ini bisa ditekan,” papar Sukirman.

Maka dari itu, pihaknya berharap setiap fasilitas kesehatan sampai di tingkat bawah seperti Puskesmas dan Posyandu perlu dilibatkan dalam pencegahan TBC dengan memberikan pelayanan khusus bagi masyarakat.

Peringkat Pertama

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong kolaborasi dan sinergi dengan berbagai pihak, dalam penanganan tuberculosis (TBC), khususnya temuan kasus TBC di masyarakat. Pasalnya, TBC merupakan penyakit menular yang menjadi masalah bersama.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, saat Peluncuran USAID Bebas TB Tingkat Provinsi Jawa Tengah dan Penyusunan Rencana Kerja Terpadu, “Bersama Menuju Eliminasi dan Bebas dari TB”, di Hotel Haris, Rabu (30/1/2024).

Sumarno menjelaskan, di Jawa Tengah temuan kasus TBC sudah terhitung tinggi, bahkan tertinggi di Indonesia. Menurutnya, temuan kasus memang mesti didorong, agar dapat dilakukan penanganan lebih baik, seperti slogan penanganan TBC, yakni TOSS, temukan, obati sampai sembuh.

“Temukan saja itu butuh effort. Makanya, penanganan TBC tidak bisa parsial, tapi butuh upaya kolaboratif,” beber Sekda.

Dia menunjuk contoh yang dilakukan Pemprov Jateng. Di mana bicara masalah yang ada di masyarakat, misalnya stunting, kemiskinan, TBC, dan lain-lain, sasarannya sama, yakni masyarakat. Untuk itu, ketika terjun ke satu desa atau wilayah, seluruh dinas diminta berkolaborasi dalam melakukan penanganan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Irma Makiyah menambahkan, pengelolaan TBC di provinsi ini menduduki peringkat pertama nasional. Temuan kasus TBC terhitung tinggi, dari target 90 persen pada 2023, tercapai 115 persen.

“Tahun 2023 ini, dari estimasi 73.856 (orang), tapi cakupan temuannya mencapai 85.071 (orang), atau 115 persen, (besaran itu) di atas nasional. Cakupan temuan terbanyak Kabupaten Tegal, nomor satu nasional,” ungkapnya.

Kendati begitu, selain terus berupaya menemukan kasus, pihaknya terus fokus melakukan upaya pencegahan TB, bekerja sama dengan banyak pihak, termasuk, Tim Penggerak PKK.

Irma juga mengapresiasi pendampingan yang dilakukan USAID di lima kabupaten/kota, yakni Kota Semarang, Surakarta, Kabupaten Kudus, Tegal, dan Cilacap, selama lima tahun mulai Juli 2023 sampai Juli 2028. Sehingga, diharapkan Jawa Tengah bisa bebas TBC pada 2030.(Advetorial-HS)

Bank Jateng dan Petrokimia Gresik Sabet Juara Turnamen Bola Voli Piala Gubernur Jateng 2024

Wakil Ketua DPRD Jateng: Bantuan untuk Korban Banjir Harus Dipastikan Merata dan Tepat Sasaran