in

Angka Kekerasan yang Menimpa Perempuan dan Anak Masih Tinggi

Ketua Badan Kerja sama Organisasi Wanita (BKOW) Jateng, Nawal Arafah Yasin.

 

HALO SEMARANG – Angka kekerasan menyasar perempuan dan anak di Jawa Tengah (Jateng) masih terbilang tinggi. Kondisi itu meningkat dan akan menurun seperti fenomena gunung es.

Ketua Badan Kerja sama Organisasi Wanita (BKOW) Jateng, Nawal Arafah Yasin menyoroti penyebab tingginya kekerasan yang menimpa perempuan dan anak. Bagian itu seperti angka perkawinan anak perempuan yang meninggi.

“Tahun 2020 terjadi kenaikan jumlah perkawinan anak perempuan yang sangat signifikan, tahun sebelumnya 672, melonjak menjadi 11.301 atau terjadi kenaikan sebesar 10.629,” paparnya saat mengikuti musyawarah daerah (Musda) Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi Jateng secara virtual, Selasa (28/9/2021).

Ia menekankan, perlunya beragam solusi kompleks untuk menurunkan angka kekerasan itu. Ia menyebut, satu di antaranya meningkatkan peran kapasitas kelembagaan KPPI Jateng.

“Para wanita yang ikut berpolitik, akan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan publik, serta membaiknya kebijakan, program dan aggaran untuk pemberdayaan perempuan,” tutur Ning Nawal, sapaan akrabnya.

Dengan begitu, lanjutnya, dapat meningkatkan kesejahteraan perempuan. Perempuan parlemen dapat mengakses, berpartisipasi sebagai perempuan untuk sumber daya pembangunan.

“Penguatan peran dan kapasitas kelembagaan KPPI Jateng sangat urgen untuk kita lakukan,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Umum KPPI Jateng, Dwi Septiawati menuturkan, terselenggaranya Musda tahun ini dapat meningkatkan target capaian 30 persen wanita duduk di kursi parlemen. Capaian tersebut, lanjutnya, dapat mendorong ambisi menurunkan kekerasan perempuan dan anak.

“Mudah-mudahan, kolaborasi optimal dan sinergitas yang terjadi antara perempuan politik dengan seluruh elemen bangsa mampu mewujudkan komitmen kita bersama, yakni terwujudnya 30 persen wanita parlemen pada 2024,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Provinsi Jateng, Retno Sudewi menyebutkan, Jateng memiliki kampanye Jo Kawin Bocah untuk menurunkan pernikahan dini pada anak perempuan.

“Melalui gerakan Jo Kawin Bocah diharapkan mampu menyadarkan orang tua tarkait pemenuhan hak anak,” jelasnya.

Dalam pencegahan kekerasan, pihaknya telah berupaya melibatkan sejumlah sektor. Satu di antaranya yaitu dengan memberikan pendampingan secara intensif.

“Pencegahan tidak bisa dilakukan sendiri. Kami juga memiliki Pusat Pendampingan Keluarga (Puspaga) dengan melibatkan beberapa sektor,” katanya.(HS)

Share This

Berenang Di Kolam Retensi PDAM, Pria Asal Genuk Ditemukan Meninggal Dunia

1.376 Warga Weleri Divaksin Hari Ini