in

Angka Kecelakaan Usia Produktif Tinggi, Rendahnya Keselamatan Transportasi

Foto ilustrasi kecelakaan. (Dok/freepik.com)

 

HALO SEMARANG – Pengamat Transportasi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno menilai pemerintah daerah harus memiliki program keselamatan dan pelayanan transportasi bagi masyarakat. Kondisi itu, menurutnya untuk mengurangi angka kecelakaan di Indonesia yang masih tinggi.

“Program keselamatan tidak hanya dilakukan pemerintah pusat, namun pemda juga wajib menganggarkan. Sesungguhnya, dinas perhubungan itu fokus pada program keselamatan dan pelayanan,” ucap Djoko kepada halosemarang.id, Jumat (24/9/2021).

Djoko mengatakan, dengan begitu masyarakat akan merasakan manfaat yang diberikan dari program keselamatan dan pelayanan transportasi. Namun, fakta di lapangan masih tak sedikit pemerintah daerah yang belum memprogramkan keselamatan berlalu lintas.

“Tidak banyak pemda yang memprogramkan keselamatan berlalu lintas. Program keselamatan tidak hanya kampanye keselamatan. Kemudian memberikan pelayanan penyediaan transportasi umum, jalur sepeda dan pejalan kaki yang humanis,” kata pria yang merupakan Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata ini.

Djoko menyebut, selama ini pemerintah daerah justru fokus pada peningkatan pendapatan aset daerah (PAD) melalui aktivitas parkir, kir, dan terminal. Hal itu, menjadikan terbengkalainya perihal keselamatan generasi penerus bangsa.

“Memberikan subsidi angkutan umum, sehingga tarifnya murah dan akan banyak pelajar menggunakan angkutan umum adalah bagian program keselamatan. Artinya, pelajar didorong menggunakan angkutan umum dan meninggalkan sepeda motor ke sekolah,” tuturnya.

Jika melihat angka kecelakaan di Indonesia dari tahun ke tahun, mulai 2016 hingga 2020. Berdasarkan data yang diungkapkannya, 74,54 persen pengguna kendaraan sepeda motor merupakan pengguna jalan yang sering terlibat kecelakaan lalu lintas.

Di mana, 43,06 persen di antaranya pada kelompok pelajar, mahasiswa dan pekerja muda. Jumlah itu sebesar 56.187 jiwa.

“Menurut usia, angka kecelakaan lalu lintas berdasarkan usia terbanyak pada usia 20-24 tahun dan peringkat kedua pada usia 15-19 tahun,” ungkapnya.

Sekarang ini, ia menerangkan, kecelakaan lalu lintas sudah menjadi salah satu aspek terkemuka di dunia. Korbannya paling tinggi generasi muda yang akhirnya mempengaruhi produktivitas individu terhadap bangsa.

“Saat ini ada lebih dari 1,25 juta kasus kecelakaan setiap tahun di dunia. Sementara di Indonesia, setiap hari 60-80 orang meninggal seketika karena kecelakaan lalu lintas. Di Indonesia setiap satu jam ada dua hingga tiga orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas,” terangnya.

Generasi muda, lanjutnya, adalah aset bangsa yang harus dilindungi. Di negara modern, sumber daya manusia selalu diprioritaskan karena mereka adalah generasi sukses yang akan membuka dan mampu meningkatkan citra bangsa.

Melihat prosentase kecelakaan lalu lintas pada kaum muda, harapnya, pemerintah harus fokus memperhatikan cara-cara menguranginya di kalangan kelompok usia poduktif ini.

“Ini bukan pertanyaan angka, namun akan sangat bernilai dan bermakna jika ada upaya untuk menguranginya. Keselamatan harus menjadi kebiasaan dan budaya yang diminta sejak usia dini,” ujarnya.

Ia menyampaikan, pendidikan dapat bertindak sebagai pembuka hati. Melalui pendidikan, sebuah kesadaran, sensitifitas, hingga tanggung jawab keselamatan akan terbentuk.

Lebih lanjut, ia menitikberatkan pada pembenahan angkutan umum baik kota maupun pedesaan. Fokus itu tak lain mengurangi angka kecelakaan menurun.

“Kepala daerah harus fokus membenahi angkutan perkotaan dan angkutan perdesaan jika menginginkan angka kecelakaan lalu lintas di kalangan milenial menurun. Juga membangun dan membenahi fasilitas pesepeda dan pejalan kaki yang berkeselamatan,” katanya.

Berdasarkan data yang dihimpun olehnya, Indonesia menempati urutan ketiga kepemilikan sepeda motor di dunia, setelah di urutan pertama Amerika Serikat dan urutan kedua Turki.

Sementara data dari Kementerian Perhubungan yang didapat dari Korlantas Polri, korban kecelakaan lalu lintas tahun 2020 menilik usianya korban tertinggi adalah kelompok pelajar, mahasiswa dan pekerja muda, yakni sebesar 56.187 jiwa atau 43,06 persen.

Mereka memiliki rentang usia 10 – 19 tahun sebesar 26.906 jiwa atau 20,62 persen dan usia 20 -29 tahun sebesar 29.281 jiwa atau 22,44 persen.

Kemudian diikuti kelompok usia 50 tahun ke atas 31.740 kejadian atau 24,32 persen, kelompok usia 10 tahun – 19 tahun ada 26.906 korban jiwa atau 20,62 persen, kelompok usia 40 tahun – 49 tahun ada 17.980 korban jiwa atau 13,78 persen, dan terendah di usia 0 – 9 tahun ada 6.027 korban jiwa atau 94,62 persen.(HS)

 

Share This

Disdag: Lapak Pedagang Diundi Secara Online, 25 September Pedagang Johar Bisa Pindahan

Vaksinasi Polres Sukoharjo dan Mahasiswa UIN Telah Mencapai Target 5.000 Dosis