in

Anggota Dilaporkan Atas Dugaan Kekerasan Di Penggusuran Warga Cebolok, Ini Tanggapan Kepala Satpol PP Kota Semarang

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang, Fajar Purwoto.

 

HALO SEMARANG – Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang, Fajar Purwoto menanggapi terkait adanya pelaporan ke kepolisian atas dugaan kekerasan yang dilakukan anggotanya saat melaksanakan eksekusi penggusuran oleh salah satu kuasa hukum warga Cebolok, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Semarang, pada Kamis (18/2/2021) lalu.

Pihaknya menampik jika saat proses penggusuran warga Cebolok, ada anggota Satpol PP yang melakukan pemukulan atau tindakan kekerasan kepada warga.

Dikatakan, Fajar, bahwa tidak ada anggotanya yang melakukan tindakan kekerasan kepada warga saat di lapangan.

“Memang ada salah satu pengacara warga, yang mau melaporkan kejadian itu ke Polda, kalau ada anggota Satpol PP yang melakukan pemukulan kepada warga di lokasi penggusuran itu,” kata Fajar, di kantornya, Senin (22/2/2021).

Pihaknya menegaskan, bahwa tidak ada anggotanya yang melakukan pemukulan kepada siapa pun.

“Justru kami dirugikan, ada anggota saya yang kepalanya memar, karena terkena lemparan batu saat berada di lokasi, bahkan juga disiram dengan bensin saat kejadian. Tapi kami tidak mau melaporkan hal ini,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut Fajar, ada juga barang bukti berupa celurit, sisa air keras, dan bensin yang digunakan warga untuk menghadang petugas yang datang.

Mereka ingin menghalangi saat Satpol PP akan melaksanakan pembongkaran, dan barang bukti tersebut saat ini masih disimpan di kantor Satpol PP.

“Memang bentrokan saat di lapangan antara petugas dan warga tidak bisa terhindarkan, namun setelah melalui koordinasi kepada semua pihak, baik itu, TNI, Polri dan pemerintah kelurahan dan kecamatan setempat, persoalan bisa diredam,” imbuhnya.

“Semua kegiatan yang kami laksanakan pasti mengikuti surat dari Distaru, baik itu surat rekom segel maupun rekom bongkar. Apalagi, warga Cebolok, sebelumnya sudah memperoleh sosialisasi dan diberikan tali asih serta bersedia meninggalkan lokasi pada tanggal 31 Januari 2021,” sambungnya.

Pihaknya, menjelaskan, karena warga tidak ada azas hak lahan tersebut sehingga Satpol PP, melakukan pembongkaran atas rekom segel dan bongkar dari Dinas Tata Ruang Kota Semarang.

“Saya meminta kepada warga menerimanya apalagi telah menerima tali asih, sehingga bisa meninggalkan lahan ini dengan sendirinya. Karena lahan ini memang dimiliki oleh seseorang dengan surat kepemilikan lahan yang sah,” ujarnya.

Di lapangan, ada sebanyak 222 bangunan yang tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) yang berdiri di lahan tersebut. Sedangkan untuk pemberian tali asih kepada warga, besaran masing-masing warga bervariasi dan dilakukan sampai tiga tahap, serta dibuktikan dengan kwitansi.(HS)

Share This

Presiden Jokowi Saksikan Pengucapan Sumpah dan Janji Anggota Ombudsman Republik Indonesia

Sempatkan Nikmati Lontong Campur Di Tengah Upaya Mendengar Aspirasi Warga