Anggaran Normalisasi Sungai Beringin Capai Rp 230 Miliar

Sawah di Mangkang Kecamatan Tugu, tergenang banjir karena tanggul jebol akibat aliran Sungai Beringin kerap meluap setiap musim hujan.

 

HALO SEMARANG – Pembangunan normalisasi Sungai Beringin di wilayah Mangkang Semarang bakal dibiayai pemerintah pusat dengan anggaran Rp 230 miliar secara multiyears. Sedangkan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang saat ini sedang melakukan pembebasan lahan tahap dua.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Semarang, Sih Rianung mengatakan, pembebasan lahan tahap pertama sebetulnya telah selesai. Namun ada review Detail Engineering Desaign (DED) dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), sehingga dilakukan penambahan wilayah sungai yang dilakukan normalisasi.

“Dulu tidak melintasi Jalur Pantura, nantinya normalisasi Sungai Beringin ini melintasi Jalur Pantura. Ini harus kami kejar hingga 2021,” katanya, Sabtu (26/12/2020).

Dijelaskan, pembebasan lahan tahap dua ini totalnya seluas 10,3 hektare. Sebagian lahan dihuni warga, sebagian berupa persawahan.

“Untuk pembebasan lahan tahap dua ini membutuhkan Rp 82 miliar dari APBD Kota Semarang. Per meter lahan senilai Rp 800 ribu. Ada satu lahan warga yang pemiliknya tidak diketahui keberadaannya,” katanya.

Sedangkan untuk pembangunan fisik normalisasi Sungai Beringin dibiayai oleh pemerintah pusat senilai Rp 230 miliar.

“Ini sudah menjadi komitmen kami untuk merealisasikan normalisasi Sungai Beringin. Kami istilahnya sudah warming up, melakukan pendataan, kemudian mengejar penetapan lokasi, karena saat ini gambar DED belum komplet,” imbuhnya.

Dikatakannya, normalisasi Sungai Beringin mendesak dilakukan karena sungai tersebut kerap meluap. Warga di wilayah Mangkang sering terdampak banjir.

“Kondisi Sungai Beringin sangat memprihatinkan, bahkan setiap tahun banjir akibat luapan air dari Sungai Beringin tiga kali lebih. Maka normalisasi ini menjadi prioritas, kasihan warga yang terkena dampak,” katanya.

Tanpa normalisasi, lanjut dia, warga resah karena tanggul sungai sering jebol. Bahkan petani di wilayah Mangkang tidak berani menggarap sawah, karena khawatir terkena banjir.

“Saya paham kondisi itu, pasir sedimentasi sungai kerap terbawa banjir menuju sawah. Ya mudah-mudahan normalisasi ini segera terealisasikan,” katanya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.