in

Ancaman Pantura Tenggelam, Dewan Minta Hentikan Eksploitasi Air Tanah

Wakil Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Hadi Santoso.

 

HALO SEMARANG – Kota Semarang dan kota pesisir lainnya di Pantura Jawa Tengah diprediksi akan tenggelam dalam 10 tahun ke depan. Bahkan saat ini laju penurunan tanahnya terbilang tinggi, yaitu 15-20 cm pertahun. Demikian berdasarkan riset yang diungkapkan oleh Kepala Laboratorium Geodesi ITB, Dr Heri Andreas, belum lama ini.

“Di tiga kota tersebut saat ini laju penurunan tanahnya sangat tinggi, 15-20 cm pertahun. Ini mirip di Jakarta pada 2007-2011, sangat mengkhawatirkan sebenarnya,” ujar Heri Andreas.

Ia menyebutkan, tenggelamnya sebagian daratan ke laut ini disebabkan oleh penurunan tanah atau land subsidence yang masif. Akibat terjadinya subsidence tanah dan sea level rise, kota-kota pesisir seperti Jakarta, Semarang, Kendal, Pekalongan, Demak, Surabaya mengalami rob atau banjir air laut.

“Di banyak tempat bahkan Rob telah terjadi secara permanen. Dengan kata lain daratan telah tenggelam ke dalam laut bukanlah sebuah cerita,” paparnya.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Hadi Santoso menyatakan, Pemerintah Provinsi Jateng harus mengambil kebijakan guna menghentikan eksploitasi air tanah untuk mengurangi laju penurunan permukaan tanah terutama di daerah pantura.

“Jika eksploitasi air tanah tidak dihentikan maka sisi utara Jawa akan kehilangan banyak daratannya, pantura akan tenggelam. Pemerintah provinsi harus menyiapkan antisipasi atas hal tersebut,” ujar Hadi, Sabtu (7/8/2021).

Hadi menyampaikan, para ahli telah memperkirakan permukaan laut akan naik 25 hingga 50 cm pada tahun 2050, dan pada tahun 2100. Air laut, tuturnya, akan menggenangi sebagian besar kota pesisir di Indonesia.

“Kita ketahui bersama ada beberapa pembangunan Industri di kawasan pantura Jateng. Bahkan di Kabupaten Pekalongan tengah disiapkan kawasan industri oleh Pemkab Pekalongan dengan lahan seluas ratusan hektare di tepi jalur Pantura,” terangnya.

Dikatakan, kondisi demikian merupakan alarm bahaya atas pembangunan kawasan industri besar di Pantura. Bahkan di Kabupaten Pekalongan sedang disiapkan proyek swasta dengan plan Segitiga Emas Pekalongan.

“Ini merupakan alarm bahaya, jika tidak diperhatikan dampak lingkungannya, maka akan memperburuk kondisi permukaan di area Pantura Jawa Tengah, pantura tenggelam bukanlah bualan,” ujar Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Menurutnya, ada beberapa upaya yang mungkin dilakukan untuk mencegah masifnya land subsidence. Di antaranya dengan mengoptimalkan pembangunan dan optimalisasi Sistem Penyediaan Air Minum Regional (SPAMReg) Petanglong (Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Batang dan Kota Pekalongan).

“Optimalisasi ini akan meminimalisir penggunaan air tanah dangkal oleh masyarakat di tiga kabupaten/kota tersebut, untuk mencukupi kebutuhan air baku untuk mereka. Karena SPAMReg Petanglong ini ditargetkan meningkatkan akses air minum aman bagi 32.000 sambungan rumah (SR) yang tersebar di tiga kota tersebut,” ucap Hadi.

Upaya mengembalikan hutan mangrove, kata Hadi, diperlukan untuk membentuk kembali garis pantai, menangkap sedimen transport untuk mengisi daratan dan menjadikan ekosistem estuaria semakin hijau dan kaya akan unsur-unsur yang menopang keberlangsungan kehidupan mahluk hidup.

Kemudian, terdapat upaya lain, dengan menyempurnakan sistem planing pengendalian banjir dan rob.

“Pemerintah dapat berkolaborasi dengan masyarakat dan aktifis lingkungan dalam menjaga ekosistem di DAS,” tuturnya.

Ia menegaskan, perlu ada keseriusan pemerintah yang harus didukung juga oleh masyarakat. Dengan kesamaan visi, imbuhnya, dapat menyelamatkan (menghambat) agar land subsidence tidak terus terjadi.

“Dibutuhkan kesungguhan dari pihak pemerintah, swasta serta masyarakat dalam melakukan tindakan nyata demi menahan laju land subsidence di wilayah pantura,” tandas anggota legislatif asal Wonogiri ini.(HS)

Share This

Sebagai Syarat Wajib Pelayaran, Polres Kendal Gelar Vaksinasi Di Pelabuhan Kendal

Tiga Orang Yang Hilang Usai Ritual Di Gunung Ungaran Behasil Ditemukan