Analisis Gempa 5 Maret, Badan Geologi Sebut Mentawai Rawan Gempa

Sumber : vsi.esdm.go.id

 

HALO SEMARANG – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut Kepulauan Mentawai dan wilayah barat Sumatera Barat, merupakan wilayah rawan gempa.

Hal itu disampaikan Badan Geologi Kementerian ESDM, seperti dirilis vsi.esdm.go.id. Disebutkan bahwa Kepulauan Mentawai disusun oleh batuan berumur Pra-Tersier (terdiri atas batuan metamorf, meta sedimen), batuan sedimen berumur Tersier.

Adapun untuk wilayah barat Sumatera Barat, didominasi batuan sedimen berumur Tersier dan endapan Kuarter (endapan pantai, sungai, rawa dan batuan rombakan gunungapi muda).

Batuan berumur Pra Tersier dan Tersier yang telah mengalami pelapukan dan endapan Kuarter, pada umumnya bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat guncangan. Wilayah dengan batuan seperti ini rawan gempa bumi.

Seperti diketahui, gempa bumi berkekuatan M 5.8 dengan kedalaman 24 kilometer, Jumat, 5 Maret 2021, pukul 14:32 WIB mengguncang Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Episentrum gempa berada di koordinat 99.14° BT dan 1.76° LS, 54 kilometer barat laut, Kepulauan. Mentawai.

Menurut Badan Geologi, pusat gempa bumi di barat laut Kepulauan Mentawai, berdasarkan tatanan tektonik Pantai Barat Sumatera, dipengaruhi oleh zona tunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, sehingga menimbulkan gempa tektonik di laut dan di daratan Pulau Sumatera.

Berdasarkan informasi BMKG pula, guncangan gempa bumi dirasakan di Padang, Painan dan Pariaman dengan intensitas III-IV Modified Mercalli Intensity (MMI).

Selain itu juga dirasakan di Kabupaten Agam, Bukit Tinggi, dan Padang Panjang dengan intensitas II-III MMI, serta II MMI di Payakumbuh.

Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena pusat gempa bumi berada di darat.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.

Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.

Skala MMI

Sementara itu menurut Bmkg.go.id, Skala Mercalli (MMI) adalah satuan untuk mengukur kekuatan gempa bumi. Satuan ini diciptakan oleh seorang vulkanologis dari Italia, bernama Giuseppe Mercalli pada tahun 1902.

Skala Mercalli terbagi menjadi 12 pecahan berdasarkan informasi dari orang-orang yang selamat dari gempa tersebut dan juga dengan melihat serta membandingkan tingkat kerusakan akibat gempa bumi tersebut.

Skala I MMI menggambarkan getaran yang tidak dirasakan, kecuali dalam keadaan luar biasa oleh beberapa orang.

Skala II MMI, menggambarkan getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang

Skala III MMI menggambarkan getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.

Pada Skala IV MMI digambarkan, jika gempa terjadi pada siang hari, maka dirasakan oleh orang banyak orang, gerabah pecah, jendela atau pintu berderik, dan dinding berbunyi

Pada skala V MMI, getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan barang besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti.

Pada skala VI MMI, Getaran dirasakan oleh semua penduduk. Kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak, kerusakan ringan.

Pada skala VII MMI, setiap orang keluar rumah. Kerusakan ringan pada rumah-rumah dengan bangunan dan konstruksi yang baik. Sedangkan pada bangunan yang konstruksinya kurang baik terjadi retak-retak bahkan hancur, cerobong asap pecah. Terasa oleh orang yang naik kendaraan.

Pada skala VIII MMI, kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi yang kuat. Retak-retak pada bangunan dengan konstruksi kurang baik, dinding dapat lepas dari rangka rumah, cerobong asap pabrik dan monumen-monumen roboh, air menjadi keruh.

Pada skala IX MMI, kerusakan pada bangunan yang kuat, rangka-rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak retak. Rumah tampak agak berpindah dari fondamennya. Pipa-pipa dalam rumah putus.

Pada skala X MMI, bangunan dari kayu yang kuat rusak, rangka rumah lepas dari fondamennya, tanah terbelah, rel melengkung, serta tanah longsor di setiap sungai dan di tanah-tanah yang curam.

Pada skala XI MMI, bangunan-bangunan hanya sedikit yang tetap berdiri. Jembatan rusak, terjadi lembah. Pipa dalam tanah tidak dapat dipakai sama sekali, tanah terbelah, rel melengkung sekali.

Pada skala XII MMI, bangunan dengan konstruksi baik dapat hancur sama sekali, permukaan tanah yang semula rata menjadi bergelombang, pemandangan menjadi gelap, benda-benda terlempar ke udara. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.