Anak Tak Butuh Sayur dan Buah Berlebihan

Temu Kader dalam rangka Penanggulangan Masalah Kesehatan Prioritas, yang diselenggarakan Tim Penggerak PKK Jateng secara virtual, Kamis (12/11). (Foto : jatengprov.go.id)

 

HALO SEMARANG – Kebutuhan gizi anak dan orang dewasa berbeda. Anak-anak lebih banyak membutuhkan protein dan lemak. Adapun orang dewasa lebih banyak membutuhkan sayuran dan buah.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Wahyu Setianingsih, pada Temu Kader dalam rangka Penanggulangan Masalah Kesehatan Prioritas, yang diselenggarakan Tim Penggerak PKK Jateng secara virtual, Kamis (12/11).

Menurut Wahyu, sayur dan buah bukan makanan utama untuk anak, melainkan pendamping.

“Jadi jangan memberikan anak sayur dan buah berlebihan, karena kedua bahan makanan itu butuh waktu lama untuk dicerna. Yang mesti diperbanyak adalah protein dan lemak, di samping karbohidrat, untuk tumbuh kembang anak. Berbeda dengan orang tua, anak tidak butuh banyak sayur dan buah,” ujarnya.

Pada kesempatan itu dia juga menyinggung tentang masalah kurang gizi dan stunting. Menurut dia, masalah kekurangan gizi tidak hanya terkait dengan asupan makanan, tetapi juga pola asuh yang kurang baik dan rendahnya akses pelayanan kesehatan, termasuk akses sanitasi dan air bersih.

Menurutnya, gizi kurang, khususnya stunting, masih menjadi persoalan yang dihadapi bangsa ini. Untuk itu, pihaknya terus mendorong masyarakat, termasuk kader PKK, agar mencegah stunting sedini mungkin. Pemenuhan gizi mutlak dilakukan pada 1.000 hari pertama kehidupan anak, atau mulai saat dalam kandungan.

Diakui, kecukupan gizi anak tak lepas dari peran orang tua maupun orang di sekitar yang mengasuhnya. Pengetahuan mengenai gizi yang dibutuhkan anak, sangat diperlukan.

Dalam kesempatan itu, Wahyu juga mengingatkan agar masyarakat menjaga kesehatan dan menerapkan protokol pencegahan penyebaran virus Corona (Covid-19). Yakni dengan membiasakan cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

Sementara itu, Ketua TP PKK Jateng Atikoh Ganjar Pranowo, menambahkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, melalui upaya penanggulangan masalah kesehatan prioritas.

Antara lain, penurunan angka kematian ibu, angka kematian bayi dan anak, penurunan stunting pada balita. Selain itu mendorong peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, penurunan penyakit menular maupun tidak menular, peningkatan ketersediaan lingkungan yang bersih sehat, dan tentunya penurunan angka Covid-19 di Jawa Tengah.

“Upaya mengatasi masalah tersebut di arahkan pada konteks pendekatan promotif dan preventif. Lantas apa yang bisa dilakukan oleh kader PKK. Tentunya, banyak sekali,” bebernya.

Atikoh mengingatkan, kader PKK berperan pada setiap siklus kehidupan manusia. Dimulai dari ibu hamil, peran kader mendampingi ibu hamil yang dikenal dengan istilah ‘5 NG“ yaitu Jateng gayeng nginceng wong meteng. Semua ibu hamil didata, diajak periksa di fasilitas kesehatan terdekat, diberi penyuluhan tentang gizi seimbang, menjaga kesehatan diri dan lingkungan, imunisasi, minum tablet tambah darah, pendampingan dalam perencanaan persalinan dan  penggunaan kontrasepsi pascamelahirkan.

“Untuk bayi, peran kader mendampingi ibu melahirkan untuk terus makan makanan yang bergizi, memantau pemberian ASI eksklusif pada bayinya sampai umur enam bulan, imunisasi pada bayinya, pemantauan dan stimulan tumbuh kembang bayinya, serta menjaga kebersihan dan kesehatan diri,” kata Atikoh.

Menjumpai balita, peran kader melaksanakan kegiatan Posyandu sesuai protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Pada remaja, kader mendukung bina keluarga remaja (BKR), sosialisasi kesehatan reproduksi remaja, bahaya narkoba, pergaulan bebas, pentingnya gizi bagi remaja, serta menyiapkan diri menjadi orang tua yang tangguh. Bagi lanjut usia, peran kader membentuk kelompok lansia atau pos lansia, agar lansia tetap sehat, bugar dan produktif, terhindar dari penyakit kronis atau penyakit generatif.

“Jangan lupa, kader PKK harus selalu mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan pakak sabun, menghindari kerumunan, dan mengoptimalkan Jogo Tonggo agar Jawa Tengah bisa bebas dari Covid 19. Pada masa adaptasi kebiasaan baru jadilah pionir untuk ikut menyadarkan masyarakat untuk tidak panik, tidak menyebarluaskan informasi hoaks, dan tergerak untuk berperilaku hidup bersih dan sehat,” kata dia. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.