in

Anak PAUD Jangan Dipaksa Bisa Calistung

Bunda PAUD Kota Pekalongan, Hj Inggit Soraya SSn. (Foto : Pekalongankota.go.id)

 

HALO PEKALONGAN – Orang tua dan satuan pendidikan, diimbau untuk tidak memaksa peserta didik TK/PAUD untuk mahir membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Anak usia dini merupakan masa, di mana mereka mempelajari sesuatu melalui bermain.

Hal ini disampaikan oleh Bunda PAUD Kota Pekalongan, Hj Inggit Soraya SSn, dalam kegiatan Bimtek Program Kesiapan Bersekolah implementasi SPM Satu Tahun Pra-SD yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan, bekerja sama dengan Kemendikbud-Ristek, di Hotel Sahid Mandarin, Selasa (28/9).

Inggit mengatakan, dalam mempersiapkan masa transisi penyelenggarakan pendidikan anak usia dini, setidak-tidaknya diperlukan tiga kesiapan saat anak akan masuk SD, yakni anak yang siap, orang tua yang siap, dan sekolah yang siap.

”Tujuan PAUD untuk menyiapkan anak ke jenjang selanjutnya, yakni SD. Sehingga, dibutuhkan kesiapan agar kemampuan bahasa, motorik, psikomotorik anak berkembang sesuai dengan usianya,” kata Inggit, seperti dirilis Pekalongankota.go.id.

Inggit menilai, masih ada orang tua yang beranggapan bahwa anak masuk SD, harus pintar calistung, padahal hal tersebut kurang tepat. Hal ini justru bisa mengganggu mental dan tumbuh kembang anak.

Karena itu orang tua tidak perlu khawatir, jika anaknya belum mampu calistung saat anak menjalani masa bermain.

“Kecerdasan anak tidak hanya akademik saja. Apalagi sampai memaksakan anak. Justru yang lebih penting adalah dari aspek kesiapan anak. Jangan sampai kecerdasan yang lain anak tertutup,” imbuhnya.

Plt Kabid PAUD dan PNF, Ahmad Husni SKom Meng, menjelaskan masa transisi anak ini menjadi salah satu perhatian, untuk dapat memberikan layanan pendidikan yang berkualitas. Sehingga, diperlukan sinergi dan persamaan persepsi metode belajar antara lembaga PAUD dan SD.

“Persamaan persepsi ini supaya anak PAUD/TK kemudian masuk ke jenjang SD tidak mengalami goncangan/perubahan yang terjadi akibat perbedaan kurikulum (metode belajar),”katanya.

Ia menambahkan, kegiatan dilakukan selama dua hari yakni 28-29 September dengan melibatkan 28 peserta terdiri dari perwakilan Dindik bidang PAUD/TK dan SD, pengawas, Kepala sekolah, perwakilan komite dan Himpaudi serta IGTKI.

Kabid SD, Unang Suharyogi SPd MM, mengatakan bahwa peserta didik kelas 1,2,dan 3 SD, merasakan adanya ketidaksiapan baik dari peserta didik, orang tua, dan guru. Dengan persiapan awal ini, dia berharap ke depan, jenjang SD dapat menyelipkan persamaan metode pembelajaran dari kurikulum PAUD/TK ke SD.

“Salah satunya dibutuhkan suatu alat permainan edukatif, yang bisa memberikan kenyamanan tersendiri bagi anak didik,” kata dia. (HS-08)

Share This

Jadi Binaan LPPM Undip, Desa Montongsari Weleri Akan Disulap Jadi Desa Wisata

Dinkes Kota Pekalongan Gencar Sosialisasikan POPM Filariasis