Anak Muda Sedekahkan Sampah untuk Beasiswa Sekolah

Seorang warga membawa tak kresek berisi sampah. Sampah tersebut bisa dikelola menjadi barang bernilai ekonomi, sekaligus menjadi bagian dari upaya pelestarian lingkungan. (Foto:jatengprov.go.id)

 

HALO KUDUS – Sebuah langkah sederhana namun nyata dan konsisten untuk menjaga kelestarian alam, dilakukan sekelompok anak muda yang tergabung dalam komunitas Kreasi Sampah Ekonomi Kota di Kabupaten Kudus (Kresek).

Mereka mengelola sampah dan mendapatkan beragam manfaat. Selain lingkungan menjadi lebih bersih, hasil dari pengelolaan sampah itu antara lain digunakan untuk beasiswa sekolah.

Ketua Komunitas Kresek Faesal Adam,  menceritakan sekilas tentang komunitas tersebut. Saat itu, dia bersama dua orang pemuda lain, membuat komunitas bernama Kresek. Nama ini seperti sebutan untuk tas plastik, yang biasa digunakan oleh warga untuk membawa belanjaan atau sampah.

Usai komunitas terbentuk, mereka merekrut anggota supaya lebih banyak lagi. Mereka mengajak teman dekat seperti teman sekolah, teman kuliah, atau para pemuda lain untuk bergabung bersama dalam Kresek.

Setelah terkumpul beberapa anggota, mereka melakukan sejumlah kegiatan. Mulai dari aksi lingkungan dalam bentuk penanaman pohon, garuk sampah, kampanye diet kantong plastik, biopori, ecobrick, dan lainnya. Selain juga melakukan kampanye di media sosial.

Kegiatan lainnya adalah sedekah sampah, yakni pengumpulan sampah yang hasil penjualannya digunakan untuk kegiatan sosial, lingkungan, dan pendidikan.

“Beasiswa, tidak hanya uang, juga pelatihan soft skill,” kata Faesal ditemui di basecamp Kresek di Rumah Gunadi, Barongan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, kemarin.

Tercatat, ada 10 anak yang telah mendapatkan beasiswa sekolah. Mereka rata-rata duduk di bangku SMA. Selain beasiswa, juga mendapatkan pelatihan soft skill seperti public speaking, pelatihan peduli lingkungan, dan sebagainya.

Program sedekah sampah ini, jelasnya, merupakan hasil penjualan sampah yang dikumpulkan dari warga. Teknisnya, warga menyerahkan sampah lebih dulu, baik dalam jumlah kecil maupun besar. Untuk sampah dalam jumlah besar, pihaknya siap mengambilnya. Sedangkan bila dalam jumlah kecil, cukup diserahkan ke kantor sekretariat Kresek di Rumah Gunadi Barongan, Kudus.

Usai sampah terkumpul, selanjutnya anggota memilah sampah, seperti memisahkan sampah jenis botol, kardus, marga, besi, botol kaca, botol plastik, minyak jelantah.

“Jika sudah banyak, dijual. Biar kita mandiri keuangan,” beber Faesal.

Dia mengemukakan, alasan merekrut anggota dari kalangan muda karena mereka merasa geram dengan masyarakat yang belum sadar untuk membuang sampah pada tempatnya. Padahal membuang sampah pada tempatnya adalah tindakan sederhana. Maka pemuda pun bergerak untuk peduli gerakan tersebut.

“Termasuk mengapa kita memberikan beasiswa pendidikan kepada anak SMA. Karena kita ingin agar mereka dari SMA berpikir untuk mencintai lingkungan,” kata Faesal.

Jumlah sampah yang terkumpul biasanya dijual sebulan sekali. Dengan jumlah sampah yang dikumpulkan, seperti minyak jelantah 100 kg, dan sampah lainnya hampir 200 kg.

Pada Hari Sumpah Pemuda, dia berharap semakin banyak pemuda yang peduli lingkungan. Setidaknya hal itu akan membuat Kudus lebih bersih. Bahkan, sebagai anak muda dia mengajak agar pemuda melakukan apa yang bisa dilakukan.

“Tidak usah menunggu hal lain. Lakukan sebisa mungkin, walaupun ada keterbatasan,” pesannya.

Hal senada juga dilakukan para remaja yang tergabung dalam Komunitas Tumbuh Garden, dengan fokus pada kegiatan urban farming.

Anggota Komunitas Tumbuh Garden, Muhamad Rasyid Sabri mengatakan, pihaknya bergerak dalam kegiatan tanam menanam, seperti, membikin taman.

“Membentuk urban farming di sini di tengah kota, baik tanaman hias, tanaman sayuran, dan buah,” kata Rasyid.

Penerima beasiswa Kresek, Yunita Widyas Putri Wardani mengaku senang mendapatkan beasiswa. Sebab selain bisa melanjutkan pendidikannya melalui beasiswa, juga mendapatkan pengetahuan kemampuan lain.

“Senang mendapatkan beasiswa, tidak hanya uang, tapi juga pelatihan kemampuan lainnya. Seperti belajar tanaman, lingkungan,” kata siswi SMK Duta Karya Kudus jurusan farmasi ini.

Seorang donatur sampah, Firda Novi Antika menyampaikan dia membawa sampah kardus dan botol ke komunitas Kresek. Dia berharap agar upaya sedekah sampah dari Kresek bisa lebih maju lagi.

“Sehingga dapat membantu termasuk anak sekolah. Bisa lebih banyak yang dapat,” kata Firda. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.