in

Alami Peningkatan Lima Persen, Biro Perjalanan Wisata Jateng Bernapas Lega

Ilustrasi wisatawan berwisata, dok freepik.com.

 

HALO SEMARANG – Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (ASITA) Jawa Tengah (Jateng) menyatakan, kondisi turunnya level menjadi dua pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di sejumlah daerah mendorong aktivitas pariwasata.

Ketua ASITA Jateng, Joko Suratno mengatakan, 50 persen pengusaha biro perjalanan telah beroperasi untuk melayani kunjungan wisatawan. Namun masih dengan sejumlah pembatasan atau penyesuaian kondisi hidup baru.

“Sudah turun PPKMnya, kami menyikapi dengan senang. Beberapa teman anggota kami, sudah melakukan kegiatan perjalanan. Sekitar 50 persen tapi kegiatannya belum banyak,” kata Joko kepada halosemarang.id, Minggu (10/10/2021).

Dari 120 agen travel yang tersebar di 35 kabupaten/kota, seluruhnya telah beroperasi. Hanya lima persen peningkatan wisatawan yang menggunakan jasa tersebut, itu pun terlihat pada akhir pekan.

“Kita ada 120 travel agen tersebar di 35 kabupaten/kota, mereka sudah melayani tamu dan sudah beroperasi. Prosentase usaha biro perjalanan wisata naik lima persen dari tadinya nol persen,” katanya.

Joko menambahkan, pengusaha biro perjalanan wisata juga menyiapkan sejumlah paket wisata, termasuk telah melayani penerbangan domestik.

“Ada beberapa hal selain paket, mereka sudah melayani tiket pesawat terbang karena sudah banyak penerbangan yang sudah buka. Hanya saja ini masih kisaran domestik,” tambahnya.

Wisata alam terbuka menjadi dominasi dalam paket wisata yang ditawarkan pihaknya. Joko menyebutkan, masyarakat sedang menggandrungi jenis daya tarik wisata di alam terbuka.

“Kami mencarikan daya tarik-daya yang memang sesuai dengan kecenderungan tren wisata yang diminati masyarakat, seperti wisata di alam terbuka,” ucapnya.

Di dalamnya, paket-paket wisata yang mengandung unsur wisata alam terbuka yaitu dengan komposisi yoga, bersepeda, dan off-road saat ini sedang digarap para pengusaha biro perjalanan.

Sementara ini, pihaknya menyasar kelompok-kelompok kecil sembari mencari pasar terbaik untuk biro perjalanan. Adaptasi berwisata di masa pandemi juga sudah menjadi hal yang tidak ketinggalan.

“Dalam waktu dekat kami juga akan membuat panduan CHSE mandiri untuk pegangan wisata. Jadi itu untuk pegangan teman-teman ketika melakukan perjalanan wisata, khususnya untuk wilayah Jawa Tengah,” ujarnya.

Namun, katanya, terkait dengan penggunaan aplikasi PeduliLindungi agaknya perlu disosialisasikan kembali kepada masyarakat. Sebab masih banyak masyarakat yang belum banyak yang memiliki aplikasi skrining tersebut.

Selain itu, jika daya tarik wisata menerapkan aplikasi PeduliLindungi otomatis sudah tersertifikasi dengan CHSE. Sedangkan jumlah daya tarik wisata di Jateng yang menerapkan itu masih belum banyak.

“Aplikasi PeduliLindungi ini memang belum banyak diterapkan di beberapa daya tarik wisata yang ada di Jawa Tengah. Saya sudah cek juga masih cukup menunjukkan kartu vaksin, jadi tidak mengakses ke PeduliLindungi karena banyak yang belum aware, biasanya yang pakai aplikasi itu sudah terverifikasi oleh CHSE,” paparnya.(HS)

Share This

Revitalisasi Stasiun Tertua Di Indonesia Bisa Jadi Destinasi Wisata Edukasi

Destinasi Pariwisata di Kota Semarang Perlu Tingkatkan Atraksi Wisata