in

Aktivitas di Media Sosial Salah Satu Pemicu Perceraian Di Kendal

Ilustrasi perceraian.

 

HALO KENDAL – Dampak seringnya bermain media sosial, ternyata bisa mengarah kepada sisi negatif terhadap hubungan pernikahan. Bahkan bisa menyebabkan perceraian dalam rumah tangga.

Hal tersebut disampaikan Humas Pengadilan Agama Kabupaten Kendal, Abdul Ghofur kepada halosemarang.id, Selasa (5/10/2021).

Menurutnya, salah satu penyebab terjadinya perceraian pasangan suami-istri di Kabupaten Kendal disebabkan oleh aktivitas di media sosial yang memicu kecemburuan pasangan, hingga akibatnya berujung perceraian.

“Dulu penyebab utama perceraian kebanyakan karena faktor ekonomi, kini ada tambahan karena media sosial. Aktivitas di media sosial ternyata bisa memunculkan rasa cemburu pasangan,” ungkap Ghofur.

Dirinya menyebut, cemburu yang bermula dari bermain media sosial menjadi salah satu sebab perceraian yang datanya cukup banyak di wilayah Kendal. Karena pasangannya mulai bertingkah di aplikasi ataupun media sosial, sehingga menimbulkan kecemburuan.

“Itu menjadikan istri atau suami cemburu, terus bertengkar hingga akhirnya bercerai. Padahal dulu kasus perceraian lebih banyak karena masalah ekonomi,” ujar Ghofur tanpa menyebut jumlah angka perceraian akibat media sosial.

Dia membeberkan, pada tahun 2021 ini, paling dominan gugatan cerai diajukan oleh pihak perempuan usia 25 – 40 tahun sebanyak 1.497 kasus dan cerai talak 516 kasus.

“Jadi total angka perceraian selama kurun Januari-September 2021 ada 2.360 kasus,” jelasnya.

Namun Ghofur tidak menampik, faktor ekonomi juga menjadi satu penyebab utama perceraian.

Ia mencontohkan, ada seorang suami yang tak mampu menafkahi istrinya. Sementara di sisi lain, si istri memiliki penghasilan yang lebih tinggi dibanding suaminya karena dia bekerja di luar negri.

“Misalnya, istri punya pekerjaan, tapi suaminya tidak kerja alias pengangguran. Itu banyak mengakibatkan pertengkaran dan ujungnya mengajukan perceraian,” jelas Ghofur.

Dirinya berharap kepada Pemerintah Daerah sampai Pemerintah Desa melakukan sosialisasi dan edukasi tentang pernikahan untuk meminimalisir angka perceraian.

“Bagaimana pun perceraian harus dihindari. Karena anak-anak bisa menjadi korban dari perceraian orang tua mereka,” pungkas Ghofur.(HS)

Share This

Kenalkan Pelatih Baru Ke Publik, Begini Pesan Manajemen PSIS

Hendi Minta DPU Fokus Peningkatan Drainase di Kota Semarang