Akan Dibangun Jadi Sport Center, Tak Banyak Catatan Sejarah Tentang Lapangan Sidodadi Semarang

Para remaja bertanding di Lapangan Sidodiadi Semarang/dok.

 

PEMKOT Semarang berencana menambah sport center baru yang ada di tengah kota, seperti yang telah terbangun di Tri Lomba Juang. Pembangunan area olahraga terpadu itu akan dilakukan dengan merevitalisasi Lapangan Sidodadi yang berlokasi di Jalan Taman Maluku, Karangtempel, Semarang Timur.

Pembangunan lapangan berukuran 130×80 meter itu akan difokuskan pada peningkatan lapangan sepak bola, lapangan futsal, lapangan voli, skate park, hingga lintasan lari sintetis.

Meski kini kondisi tak lagi bagus, Lapangan Sidodadi sebenarnya memiliki sejarah panjang akan lahirnya banyak klub sepak bola, khususnya SSB di Kota Semarang.

Lapangan Sidodadi bahkan mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu lapangan sepak bola tertua di Kota Semarang bersama Stadion Diponegoro.

Namun catatan sejarah terkait awal adanya lapangan ini sangat sulit ditelusuri.

Halosemarang.id hanya memperoleh data bahwa lapangan tersebut merupakan aset Pemkot Semarang, yang sejak dulu difungsikan sebagai lapangan sepak bola yang dikhususkan untuk latihan pembinaan usia dini, atau sekolah sepak bola (SSB).

Kepala Bidang Pembinaan Olahraga Prestasi Dinas Pemuda dan Olahraga (Dinpora) Kota Semarang, Nur Syamsi mengatakan, Lapangan Sidodadi sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

Dulunya lapangan ini merupakan lapangan kampung, yang digunakan untuk belatih sepak bola penduduk pribumi.

“Kenapa lapangan bernama Lapangan Sidodadi, karena berada di wilayah yang dulu bernama Sidodadi,” katanya, Rabu (3/3/2021).

Sementara informasi dari sesepuh SSB Sport Supaya Sehat (SSS) Semarang, Samsuri (64), sejarah tentang Lapangan Sidodadi secara detail tidak dia ketahui.

Namun dari sejarah berdirinya SSB SSS yang dulu bernama “Tot Ons Doel” kemudian jadi “Sport Stal Spieren”, lapangan ini sudah digunakan untuk berlatih sepak bola sejak 1920-an.

“Sejarahnya sangat panjang, karena sejak zaman Belanda lapangan ini sudah ada. Bahkan pada 1930 saat “Voetbal Bond Indonesia (VIS)” yang memiliki home base di Lapangan Karimata berdiri, lapangan Sidodadi juga sudah ada meski tak seperti sekarang. Tepatnya 18 Mei 1932, VIS berubah nama menjadi Persatuan Sepakbola Semarang (PSIS),” katanya.

Dari informasi yang didapat dari sumber lainnya, Lapangan Sidodadi tahun 1950an belumlah sebagus kini. Lapangan Sidodadi cuma berpagar kawat dan rumputnya tinggi. Karena rumputnya tinggi itulah, warga sekitar banyak yang buang kotoran di situ.

Saat ini, tidak sedikit sejumlah klub sekolah sepak bola (SSB) di Kota Semarang menggunakan lapangan tersebut untuk berlatih.

Salah satunya yang masih eksis adalah klub sepak bola bernama Sport Supaya Sehat (SSS).

Klub ini menggunakan Lapangan Sidodadi sejak Sebelum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) lahir.

Banyak pemain hebat Indonesia lahir dari SSS, yang juga berlatih di Lapangan Sidodadi. Sebut saja Joko Yogianto, Ridwan (PSIS era 80-an), Eko Purjianto, M Ridwan dan lainnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.