Aiptu Sutrisno, Ajari Santri Membuat Aeromodeling Hingga Keinginan Membentuk Koperasi

Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen saat melihat pesawat aeromodeling buatan Santri Al Ma’wa, yang akan diterbangkan di Desa Sumbersari Kecamatan Ngampel, beberapa waktu lalu.

 

SEBAGAI anggota kepolisian yang berdinas di Polda Jawa Tengah, Aiptu Sutrisno masih menyempatkan waktunya untuk melatih dan membuat replika pesawat terbang jenis Aeromodeling bagi santri di salah satu pondok pesantren yang ada di Kabupaten Kendal.

Di saat waktu luang, Aiptu Sutrisno mengajarkan cara membuat replika pesawat juga mengajarkan cara mengoperasikan aeromodeling.

Menurut Sutrisno yang bertugas sebagai anggota Intelkam Polda Jateng, dia menekuni pengabdiannya ini tanpa menerima imbalan. Tujuannya hanya ingin berbagi ilmu dengan para santri.

“Setelah berganti pakaian dan bertemu anak serta orang tua sepulang kerja, saya kemudian mengajar di Pondok Pesantren Al Ma’wa, Desa Sumbersari, Kecamatan Ngampel,” ungkapnya kepada halosemarang.id, Sabtu (6/3/2021).

Dikatakan, di ponpes tersebut, dirinya memantau sekaligus mengajari para santri, membuat atau merakit replika pesawat terbang tanpa awak.

“Setelah bertemu para santri, rasa capek setelah kerja hilang sendirinya,” ungkap Aiptu Sutrisno.

Bahkan saat hari libur pun, waktunya ia habiskan dengan mengajar para santri. Itupun menurutnya masih kurang waktu, saking asyiknya bertemu dan melatih para santri.

Sutrisno mengaku, dirinya sudah mendapat izin dari Pengasuh Ponpes Al Ma’wa, Kiai Munawar.

“Ya, beliau (Kiai Munawar) berpesan, santri itu jangan hanya bisa ngaji. Tapi harus bisa kepintaran lain. Seperti membangun rumah, jadi insinyur, pekerja kantoran dan bikin replika pesawat jenis aeromodeling ini,” kata Aiptu Sutrisno.

Dia pun mengaku, setelah dikunjungi Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yazin Maimoen beberapa waktu lalu, replika pesawat bikinan para santi tersebut mendapat banyak pesanan.

“Ya sampai belum terlayani semua. Bahkan, anggota DPR RI pun ada yang memesan. Dan saat ini kami pun terbentur material yang juga harus mengantre untuk mendapatkannya,” ujarnya.

Koperasi Pondok Pesantren

Sutrisno menceritakan, dalam pembuatan replika pesawat tanpa awak ini, dirinya juga melibatkan para santriwati yang bertugas untuk mengamplas dan bagian pengepakan.

Sehingga semua santri ikut terlibat dalam industri tersebut.

Dia juga mengaku, saat ini dirinya bersama para santri, baru bisa memproduksi 20 pesawat aeromodeling.

“Kami berharap para santri yang sudah bisa membuat pesawat ini, bisa menghasilkan bassis ekonomi tersendiri. Selain itu, santri juga harus pandai dalam pengetahuan di luar pengetahuan agama,” imbuhnya.

Sutrisno pun berharap, ke depan, Ponpes Al Ma’wa ini, bisa menjadi tempat belajar dari ponpes lainnya, terkait dengan pembuatan replika pesawat.

Menurutnya, saat ini sudah ada lima ponpes dari luar Kendal yang mengirimkan santrinya untuk ikut pelatihan.

“Ada yang dari Magelang, juga Kota Semarang. Ke depan kami juga akan bekerja sama dengan BUMDes setempat dalam penyediaan lapangan pacu. Sehingga baik pemerintah desa, kabupaten dan provinsi bisa mendukung kegiatan kami ini,” tutur Aiptu Sutrisno.

Terkait harga, dirinya mengaku dibanderol satu unitnya di luar mesin dan assesori, seharga Rp 500.000 – Rp 1,5 juta.

“Tergantung besar kecilnya pesawat. Selain itu, ada dua model pesawat aeromodeling ini. Ada yang menggunakan mesin berbahan bakar dan yang menggunakan batre,” ucapnya.

Selain itu, lanjut Aiptu Sutrisno, dari beberapa pecinta aeromodeling yang tergabung di KONI juga sudah ada yang memesan, juga paguyuban Kepala Desa pun tak ketinggalan memesannya.

“Para Kades tertarik saat melihat uji coba pas ada kunjungan Pak Wagub Jateng kemarin. Mereka langsung pesan. Namun belum terlayani semua,” imbuhnya.

Sutrisno juga mempunyai cita-cita untuk menghidupkab Koperasi Pontren (Pondok Pesantren).

“Nanti kalau pandemi sudah berakhir, kemungkinan order material sudah cepat dan bisa memproduksi dalam jumlah banyak, baru kita buat Koperasi Pontren. Sehingga bisa menghidupkan perekonomian melalui pondok pesantren,” pungkasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.