Agustina Wilujeng: Sebagai Modal Bangsa, Generasi Milenial Harus Bisa Hargai Kebhinekaan

Acara Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dengan tema ”Menerapkan Sikap dan Perilaku yang Berprinsip pada Bhinneka Tunggal Ika bagi Generasi Milenial” di Cinnamon Room Hotel Setos Semarang, Minggu (4/10/2020).

 

HALO SEMARANG – Anggota MPR Agustina Wilujeng Pramestuti memberikan motivasi kebangsaan saat membuka acara Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dengan tema ”Menerapkan Sikap dan Perilaku yang Berprinsip pada Bhinneka Tunggal Ika bagi Generasi Milenial” di Cinnamon Room Hotel Setos Semarang, Minggu (4/10/2020).

Agustina Wilujeng dalam sambutannya di depan 50-an peserta anggota Derap Juang yang berasal dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah mengatakan, generasi milenial harus menjadi pilar bagi perwujudan sikap dan perilaku Bhinneka Tunggal Ika.

“Mengapa? Karena kalianlah nanti yang akan menjadi pemimpin Indonesia di masa depan. Dengan bersikap dan berperilaku demikian, saya bayangkan masa depan Indonesia akan kian sejahtera dan aman,” terangnya.

Dikatakan, generasi milenial harus mengedepankan sikap saling menghargai perbedaan, mampu bekerja sama dan mengedepankan prasangka baik dengan banyak pihak dari latar belakang suku, agama, dan ras juga golongan (SARA).

“Dengan sikap dan karakter semacam itulah generasi milinial akan memberikan kontribusi yang signifikan bagi Indonesia. Oleh karena itu, mengapa sikap dan perilaku Bhinneka Tunggal Ika harus diadopsi generasi milenial,” jelas Agustina yang saat ini sedang menempuh S3 Fakultas Ilmu Budaya Undip.

Dirinya menunjukkan negara-negara yang kemudian terpecah karena konflik SARA, atau terus berkonflik tak berkesudahan. Dia juga mengungkapkan sejarah Indonesia sehingga memutuskan mengapa Empat Pilar Kebangsaan itu penting.

”Tantangan ke depan akan makin berat. Bangsa ini butuh generasi yang tangguh, yang paham sejarah, dan mengerti bahwa negara ini dibangun oleh kebersamaan banyak pihak dan golongan,” ujarnya.

Menurutnya, generasi yang demikian akan punya integritas kebangsaan, membuang sekat primorialisme dan kesukuan lain, dan menggemakan kebersamaan sebagai energi bangsa

“Saya berharap, teman-teman muda yang hadir di sini akan menggemakan semangat kebersamaan itu, menjadi penerus sikap kebhinnekaan yang ika, sehingga bangsa ini terus jaya ke depan,” ungkap Agustina, yang disambut tepuk tangan peserta.

Sikap menghargai kebhinnekaan itu juga yang membuat Agustina mengundang para milenial dari 35 kabupaten/kota untuk saling berkumpul, berinteraksi, berdiskusi dan merumuskan kekuatan yang terkandung dalam keberbedaan.

Dirinya meyakini, dengan komunikasi yang terbuka dan tanpa prasangka, maka keberbedaan akan menjadi kekayaan, bukan memisahkan tapi merekatkan.

”Lihat gedung ini, hotel yang besar dan kokoh ini. Bangunan ini tidak akan berdiri jika hanya terdiri dari semen atau bata saja. Tapi di dalamnya ada semen, bata, koral, besi, lem, kayu, dan pernik lainnya. Setiap bagian memberi andil yang sama untuk bangunan yang kokoh ini,” contohnya.

“Begitu juga bangunan kebangsaan kita, butuh kerja sama antaragama daan suku, kerjasama berbagai golongan dalam kesepahaman,” imbuh Agustina.

Hal senada dengan pernyataan Agustina diungkapkan, pembicara lain, Pemimpin Redaksi Wawasan, Aulia Muhammad dan Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, Gunawan Permadi.

Aulia menyoroti soal keragaman budaya yang menjadi kekayaan Indonesia, yang hanya dapat dikelola jika generasi milenial juga memiliki modal jaringan dari berbagai unsur.

”Promosi budaya akan sangat menarik jika dilakukan oleh kita yang tidak berasal dari budaya yang sama. Inilah sikap dan perilaku Bhinneka Tunggal Ika yang harus diwujudkan,” katanya.

Sementara Gunawan Permadi membagikan pengalamannya berada di beberapa negara, dan menunjukkan bagaimana prasangka etnis itu sangat mengganggu kemajuan negara itu.

”Prasangka etnis itu ada. Tidak bisa dihindari. Tapi, kita harus ubah prasangka itu harus jadi prasangka baik, sesuatu yang positif. Dengan itu maka generasi milenial akan dapat bergerak dan berkontribusi tanpa sekat dan gangguan,” jelasnya.

Banyak lontaran pertanyaan diberikan peserta dalam acara yang berlangsung sampai malam itu. Seperti salah satu peserta Rintang Bramantya dari Semarang.

Rintang membagikan pengalamannya berinteraksi dengan banyak pihak dari berbagai suku dan golongan, dan merasakan tidak ada kendala sama sekali.

“Pokoknya kita saling terbuka dan menjaga komunikasi. Semua hal bisa jadi adem dan menyenangkan jika kita mengedepanan keterbukaan dan prasangka baik,” kata Rintang setelah  membagikan pengalaman.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.