in

Ada Tambahan Enam UIN, Kemenag : Jangan Sampai Rasanya Tetap IAIN

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Suyitno. (Foto : Kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Enam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang telah berubah bentuk menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), diikuti peningkatan mutu dan kualitas.

“Jangan sampai secara kelembagaan sudah menjadi UIN, namun rasanya masih IAIN,” kata Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Suyitno, di Jakarta, Sabtu (29/5) seperti dirilis Kemenag.go.id.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menerbitkan enam peraturan presiden, mengenai perubahan enam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Dengan bertambah enam, sekarang ada 23 UIN di Indonesia.

Adapun enam UIN baru tersebut adalah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (Perpres No 40 tahun 2021), UIN Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto (Perpres No 41 tahun 2021), UIN Raden Mas Said Surakarta (Perpres No 42 tahun 2021), UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda (Perpres No 43 tahun 2021), UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (Perpres No 44 tahun 2021), dan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu (Perpres No 45 tahun 2021).

Lebih lanjut Suyitno mengingatkan agar perubahan bentuk kelembagaan ini diikuti dengan peningkatan mutu dan kualitas. “PTKI (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam) yang telah berubah bentuk menjadi UIN harus mampu menyelenggarakan integrasi keilmuan Islam dan Sains serta memiliki distingsi terhadap program studi yang ada dengan kampus lain,” lanjut Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang tersebut.

Merespons revolusi industri 4.0, kata Suyitno, PTKI harus memiliki paradigma strategi dan cara pengelolaan yang baru. PTKI harus dapat beradaptasi dengan setiap perubahan.

“Ketidakmampuan lembaga untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman, akan menjadikan lembaga tidak responsif serta lambat,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Suyitno juga menyampaikan selamat dan bersyukur atas terbitnya enam perpres tentang perubahan bentuk IAIN menjadi UIN. Menurutnya, proses perubahan bentuk ini berpedoman kepada Peraturan Menteri Agama Nomor: 20 tahun 2020 sebagai pengganti PMA Nomor: 15 tahun 2014.

Hal senada disampaikan Kasubdit Kelembagaan dan Kerja Sama M. Adib Abdushomad. Dia menegaskan bahwa transformasi kelembagaan tidak boleh memperlemah rumpun ilmu-ilmu keislaman (Islamic studies).

“Perubahan ini tetap harus memperkuat ajaran Islam Wasathiyah dan jangan sampai ke depan malah Universitas hanya akan menjadi rumah bagi orang lain atau home for others,” tandasnya. (HS-08)

Share This

Perpres Terbit, Enam IAIN Bertransformasi Jadi Universitas Islam Negeri

Ruang Publik Olahraga Desa Mororejo Diresmikan