in

A Djong, Minuman Beralkohol Asal Semarang Yang Jadi Cikal Bakal Congyang

Foto ilustrasi.

 

BAGI masyarakat Kota Semarang tentu tak asing dengan minuman beralkohol Congyang. Salah satu minuman beralkohol paling legendaris di Kota Semarang ini, memang sudah banyak dikenal masyarakat karena mulai beredar sejak 1980-an silam.

Meski khas dan terkenal, tapi tak banyak yang mengetahui ternyata dulu di Kota Semarang, pernah ada minuman beralkohol yang juga melegenda, dengan merk A Djong.

A Djong inilah, yang kemudian hari berevolusi menjadi Cong Yang atau Congyang. Di era 1970-an, merk A Djong ini terkenal di Semarang sebagai sarana mabuk-mabukan.

“Tapi A Djong meredup. Lambat laun tidak laku. Muncullah inovasi baru Cong Yang di 1980. Pembuatnya sama yakni Koh Tiong di Wotgandul,” kata Arty, salah satu tokoh masyarakat dan pegiat media sosial di Kota Semarang.

A Djong sendiri sebenarnya merupakan nama seorang suhu ternama asal Tiongkok yang menetap di Semarang, dan mengusai ilmu bela diri asal Tiongkok di zamannya.

Sekaligus adalah master peracik minuman tradisional. A Djong kemudian dipanggil oleh orang tuanya yang menetap di Semarang. Ia diminta pulang agar segera menikah dengan seorang gadis tetangga bernama Auw Yang Ien Nio, warga Kampung Gabahan Lengkong Buntu Semarang.

A Djong yang juga memiliki keahlian meracik obat-obatan tradisional ini kemudian memproduksi minuman beralkohol yang diberi nama A Djong tersebut. Tentu saja, sejarah Congyang tak terlepas dari A Djong.

Khong A Djong sendiri lahir di Kampung Gabahan Lengkong Buntu, kawasan Pecinan Semarang pada 10 Oktober 1896.

Dikisahkan, selama 27 tahun dia digembleng ilmu kungfu di Tiongkok. Pada tahun 1923, saat itu masih era penjajahan Belanda di Indonesia, A Djong kemudian dipanggil oleh orang tuanya yang menetap di Semarang.

Untuk menghidupi keluarganya pada masa kolonial Belanda di Indonesia, Khong A Djong ini kemudian memproduksi minuman beralkohol yang diberi nama A Djong.

Minuman ini sempat populer pada tahun 1960an sampai 1980an. Bahkan saking terkenalnya, di kalangan anak muda Kota Semarang kala itu, sempat ada istilah “ndoyong Ajong” atau “mabuk Ajong” untuk menyebut orang yang berperilaku kurang normal seperti orang mabuk.

Mulai Ditinggalkan

Pada era 1960-1970-an, merk A Djong ini menjadi minuman alkohol terkenal di Semarang dengan kadar alkohol 35 persen.

Namun seiring berjalannya waktu, minuman A Djong kian lama ditinggalkan karena rasanya yang dinilai terlalu panas, mirip seperti arak China.

Rasa A Djong bagi para konsumen di Semarang dirasa kurang bersahabat dengan lidah, tenggorokan, dan perut mereka. Hal inilah yang kemudian menyebabkan A Djong berangsur-angsur makin meredup.

Dan sekitar 1980an, kejayaan A Djong benar-benar pudar dan lambat laun mulai tidak laku. Karena persoalan inilah muncul inovasi baru dalam bentuk Congyang pada tahun 1980-an.

Racikan Congyang kemudian mulai diproduksi dan dilempar ke pasaran. Ternyata pergulatan Koh Tiong dalam mengkreasikan minuman A Djong jadi Congyang mendapatkan antusiasme dari masyarakat Kota Semarang.

Cita rasa Congyang yang ada rasa manis dan aroma mocca lebih diminati dibanding A Djong yang cita rasa pahit dan lebih “keras”.

Congyang pun mulai beredar sekitar 1980-an silam. Sejak awal minuman ini memang diproduksi massal sebagai komuditas dagang. Jadi berbeda dengan ciu atau arak dan minuman tradisional lain di Indonesia yang diproduksi sebagai tradisi yang mengakar di masyarakat atau kultural.(HS)

NB: Tulisan ini tak bermaksud untuk melegalitaskan minuman keras. Ini hanya sebagai pengetahuan tentang sejarah dan budaya lokal Semarang. 

Share This

DPD IKA Lemhanas Jateng Teken MoU Kemitraan Dengan FH Unnes

Kembali Latihan Di Tengah Pandemi, Ini Saran Dokter Tim PSIS untuk Skuad Mahesa Jenar