4.000 Warga di Boyolali Perlu Diungsikan, Kabupaten Boyolali Intensifkan Antisipasi Letusan Merapi

Foto : boyolalikab.go.id

 

HALO BOYOLALI – Sebanyak lebih kurang 4.000 warga, perlu diungsikan jika sewaktu-waktu Gunung Merapi kembali mengalami erupsi.  Pemkab Boyolali sudah mendata kembali jumlah dan lokasi pengungsian untuk mereka.

Penjelasan tersebut disampaikan Sekda Kabupaten Boyolali, berkaitan dengan status Gunung Merapi yang kini sudah siaga. Selain penyiapan lokasi, simulasi evakuasi juga sudah dilakukan, untuk mengantisipasi bencana vulkanik tersebut.

“Ya, kami terus mempersiapkan diri untuk mengantisipasi bencana erupsi. Memang dilaporkan Merapi sudah membentuk kubah lava, dimungkinkan erupsi ada, tapi sejauh ini masih aman,” kata dia seperti dirilis situs resmi Pemkab Boyolali.

Dia menjelaskan, tanda-tanda bahwa gunung berapi itu mulai batuk-batuk lagi, adalah masyarakat di kawasan lereng mendengar suara gemuruh dari arah puncaknya.

Namun demikian, suara tersebut tidak sampai menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.

“Seminggu lalu, suara gemuruh terdengar dari Dukuh Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo. Dukuh tersebut adalah dukuh tertinggi yang terdekat dengan kawasan puncak Merapi.”

Pihaknya juga terus mengingatkan masyarakat agar tetap tenang serta tak perlu resah. Namun demikian, mereka diminta waspada dan rutin melakukan siskamling di lingkungan masing- masing. Setiap perkembangan kondisi Merapi terus dipantau dan jika ada bahaya bakal disampaikan ke masyarakat.

“Termasuk salah satunya adalah simulasi dan sosialisasi yang digelar di Mertoyudan, Kabupaten Magelang, di mana jumlah penduduk yang perlu dievakuasi bila aktivitas Merapi meningkat sebanyak 4000 an jiwa,” katanya.

Skema evakuasi dua desa tersebut, lanjutnya, yakni pengungsi akan tinggal di rumah-rumah warga yang memang sudah dipersiapkan. Konsep tersebut mengadopsi konsep sister village, di mana sebanyak 17 desa di Kecamatan Cepogo, Selo, dan Musuk yang masuk kawasan risiko bencana (KRB) II dan III, menjalin kerja sama dengan desa lain di wilayah yang aman untuk lokasi evakuasi.

Meski di wilayah Magelang, namun bila evakuasi dilakukan, suplai logistik masih menjadi tanggung jawab Pemkab Boyolali.

Demikian halnya proses evakuasi, pihaknya terus melakukan simulasi dan pengkondisian masyarakat serta petugas bila terjadi bencana. Simulasi meliputi kesiapan jalur evakuasi, dapur umum, komunikasi, hingga penanganan kesehatan di masa pendemi ini. Termasuk Jembatan Bangunsari, Desa Klakah yang menghubungkan langsung dengan Dukuh Sepi, Desa Jrakah. Jembatan bisa dilalui kendaraan roda empat dan sepeda motor.

“Pembangunan jembatan gantung dengan anggaran dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) senilai Rp 4,5 miliar itu sudah selesai dan tinggal diresmikan saja,” kata dia (HS-08).

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.