in

24 Juta Terinfeksi Covid-19, Pemerintah India Bunyikan Alarm Bahaya untuk Warga Desa

Sumber : Channelnewsasia.com

 

HALO SEMARANG – Pemerintah India saat ini sedang dalam situasi perang besar melawan penyebaran Covid-19, termasuk  varian B1617 yang sangat mudah menular. Perdana Menteri Narendra Modi, bahkan telah membunyikan “alarm” tanda bahaya, atas penyebaran virus corona di pedesaan India yang luas, Jumat (14/5) lalu.

Penyebaran Covid-19 di negeri itu memang sudah dalam tingkat sangat mengkhawatirkan. Dalam tiga hari berturut-turut, sebanyak 4.000 orang telah meninggal dunia karena virus ini dan total infeksi melampaui 24 juta.

“Wabah mencapai daerah pedesaan dengan kecepatan tinggi. Saya ingin sekali lagi memperingatkan semua, mereka yang tinggal di desa tentang korona,” kata Modi ketika berbicara kepada masyarakat pedesaan, dalam konferensi virtual.

Wilayah pedesaan dan pinggiran di India, menjadi sangat rentan menerima dampak paling parah dari tsunami Covid-19 ini. Hal itu karena wilayah-wilayah tersebut ditinggali oleh dua pertiga penduduk India, sementara fasilitas kesehatan yang ada justru sangat terbatas.

“Semua departemen pemerintah, semua sumber daya, angkatan bersenjata kami, ilmuwan kami, semua orang bekerja siang dan malam untuk melawan Covid, bersama-sama,” katanya.

Lanjut dia, seperti di seluruh dunia, setelah Ramadan, 200 juta masyarakat muslim di India juga merayakan Idulfitri. Tetapi untuk tahun 2021 ini, setelah tsunami Covid-19 melanda India, sebagian besar negara bagian telah memberlakukan penguncian penuh.

Banyak tempat-tempat publik, termasuk masjid ditutup. Untuk masjid yang masih digunakan, jamaah harus mengikuti langkah-langkah jarak sosial ketika pelaksanaan shalat.

“Hal baiknya, adalah semua orang mengikuti dan merayakan Idulfitri di dalam rumah mereka,” kata Maulana Khalid Rashid, seorang ulama di kota Lucknow, seperti dirilis Channelnewsasia.com.

Televisi menyiarkan gambar-gambar keluarga yang menangisi keluarga mereka, yang meninggal di rumah-rumah sakit atau tempat isolasi. Mayat-mayat pun banyak yang terdampar di Sungai Gangga.

Banyak mayat tak terurus, karena krematorium kewalahan dan kayu untuk pembakaran kayu bakar tidak mencukupi. Seperti diketahui, kremasi merupakan hal biasa untuk masyarakat nonmuslim di India.

Jurnal medis The Lancet, mengatakan pembatasan pergerakan bersama dengan langkah-langkah dukungan internasional, sangat dibutuhkan untuk membendung krisis kesehatan masyarakat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Modi juga telah berada di bawah tekanan politik, untuk memberlakukan penguncian nasional. Meskipun demikian, efektifitas kebijakan lockdown, juga dipertanyakan oleh Presiden Yayasan Kesehatan Masyarakat India, K Srinath Reddy.

“Kami menyadari, kecemasan yang ditunjukkan oleh pengamat internasional. Tetapi Anda tidak dapat membungkus seluruh India dalam ‘satu selimut,” kata K Srinath Reddy, dalam sebuah diskusi panel.

Data Kementerian Kesehatan India, mencatat 4.000 kematian dan 343.144 infeksi baru selama 24 jam terakhir, di bawah puncak minggu lalu 414.188.

Total infeksi sejak pandemi melanda India lebih dari setahun lalu melampaui 24 juta, dengan 262.317 orang meninggal.

Para ahli mengatakan, angka sebenarnya jauh lebih tinggi, dengan kurangnya akses ke tes dan perawatan yang berarti banyak kasus tidak terhitung.

Lebih lanjut Modi mengizinkan semua orang dewasa di India, untuk meminta vaksin mulai 1 Mei. Namun meskipun India adalah produsen vaksin terbesar di dunia, permintaan yang sangat besar telah membuat persediaannya rendah dan vaksinasi telah melambat.

Hingga Jumat, mereka telah memvaksinasi penuh lebih dari 39,4 juta orang, atau sekitar 2,9 persen dari populasi. Pemerintah telah berjanji untuk mempercepat program vaksin secara dramatis dalam beberapa bulan mendatang.

Lebih dari 2 miliar dosis vaksin kemungkinan akan tersedia antara Agustus dan Desember. Penasihat pemerintah VK Paul, mengatakan itu termasuk 750 juta dosis vaksin Astra Zeneca, yang dibuat oleh Serum Institute of India, serta 550 juta dari Covaxin, yang dikembangkan oleh produsen dalam negeri Bharat Biotech.

Yamini Mishra, direktur kelompok hak asasi Asia-Pasifik Amnesty International, mengatakan varian yang menyebar cepat di India ini, telah menimbulkan kekhawatiran di seluruh dunia. Di India, virus itu menyebar dan melampaui perbatasan, dengan kecepatan yang menakutkan dan akan menghantam dan menimbulkan dampak parah pada populasi yang paling terpinggirkan di kawasan itu.

“Bencana di India dan Nepal ini, juga harus menjadi peringatan bagi negara-negara lain di kawasan itu, untuk berinvestasi besar-besaran dalam peningkatan kapasitas untuk tanggap darurat,” katanya.(HS-08)

Share This

Potensi Gempa dan Tsunami di Nias Sedang hingga Tinggi, Perlu Kesiapsiagaan

Performa di Lintasan Jadi Penentuan Nasib