in

20 Tahun Berlalu, Korban Tragedi 11 September Masih Bertambah

Para petugas penyelamat mencari korban di reruntuhan menara kembar WTC di New York, Amerika Serikat, pascaserangan teroris, 11 September 2001. (Sumber : Tangkapan layar Youtube Badan Penanggulangan Bencana Federal AS)

 

HALO SEMARANG – Walaupun sudah dua dekade berlalu, peristiwa runtuhnya menara kembar World Trade Center (WTC), di New York, Amerika Serikat pada 11 September 2001, masih meninggalkan luka bagi masyarakat di Amerika Serikat.

Hingga peringatan ke-20 serangan teroris Al Qaeda tersebut, jumlah korban yang sakit dan meninggal masih terus bertambah. Mereka adalah orang-orang yang terpapar awan beracun dan debu di Manhattan, setelah Menara Kembar WTC jatuh.

Seperti dikutip dari Newsweek, perkiraan jumlah orang yang sakit atau berisiko sakit tersebut mencapai 500 ribu orang. Namun hanya sebagian kecil, yang menerima perawatan melalui program kesehatan federal Amerika Serikat. Program kesehatan itu dibentuk untuk membantu para korban, dengan dukungan dana besar dari Pemerintah AS.

Tercatat lebih dari 3.900 orang tewas akibat kondisi terkait tragedi 11 September. Angka tersebut lebih besar dari jumlah orang yang tewas secara langsung, dalam serangan Al-Qaeda 20 tahun lalu itu, yakni mencapai 3.030 orang.

Sebanyak 112 ribu orang, saat ini dirawat karena berbagai kondisi medis, termasuk gangguan pernapasan serius dan berbagai jenis kanker.

Sementara itu, Dana Kompensasi Korban 11 September (VCF), yang memberikan dukungan keuangan, telah menerima hampir 67.500 klaim , membayar total $8,95 miliar hingga saat ini.

Walaupun angka-angka itu sedemikian besar, namun tetap ada kemungkinan ratusan ribu korban yang tidak diobati dan tidak mendapatkan kompensasi finansial. Perkiraan ini diambil, karena jumlah mereka yang terpapar racun, mencapai setengah juta orang.

“Sungguh memilukan mengetahui bahwa ada manfaat yang tersedia dan orang-orang tidak memanfaatkannya,” kata Michael Barasch, seorang pengacara Kota New York.

Saat peristiwa terjadi, Barasch berada di kantornya yang berjarak beberapa blok dari World Trade Center. Dia kini menderita kanker prostat, dianugerahi kompensasi melalui VCF, namun kemudian dia sumbangkan untuk amal. Sejak itu dia mewakili puluhan ribu korban lain, yang terpapar awan beracun pada serangan pada kemanusiaan tersebut.

Petugas pelayanan darurat dan sukarelawan yang mencari korban selamat di antara 1,8 juta ton puing-puing saat itu, merupakan bagian terbesar dari mereka yang kini mencari perawatan.

Mayoritas dari mereka telah mengajukan klaim keuangan kepada VCF. Dari 100.000 atau lebih orang yang dipercaya menjadi responden, sekitar 80 persen telah terdaftar dalam Program Kesehatan WTC.

Walaupun demikian, jumlah warga sipil yang menderita akibat serangan itu, menurut dia mencapai lebih kurang 400 ribu orang. Mereka termasuk warga Manhattan, pekerja kantoran di sekitar World Trade Center, anak-anak yang bersekolah di daerah tersebut, anggota keluarga yang mencari orang hilang dan pengunjung yang memberikan penghormatan pada para korban.

“Kami semua menghirup debu beracun yang sama. Kami semua terkena penyakit yang sama,” kata Barasch.

Menurut dia, orang-orang yang tidak terlayani oleh program kesehatan pemerintah federal teresbut, umumnya tidak mengajukan permohonan untuk mendapat tunjangan kesehatan atau keuangan, karena tidak tahu bahwa mereka memenuhi syarat.

Dia telah menghabiskan bertahun-tahun mendesak orang-orang dengan potensi paparan, untuk mengumpulkan bukti, waktu yang mereka habiskan di zona WTC, seperti pernyataan tertulis yang ditandatangani dari teman dan kolega, gambar, dan video, atau catatan kehadiran kerja dan sekolah. (HS-08)

Share This

Cakupan Vaksinasi Baru 15 Persen, Bupati Purbalingga Apresiasi Sosialisasi oleh Pemuda Pancasila

Polisi Lengkapi Berkas untuk Tetapkan Tersangka Kasus Kebakaran Lapas Tangerang