in

17 th Hysteria “Jalan Terus” di Tengah Pandemi

Pengunjung menikmati pameran foto perjalanan Hysteria yang ulang tahun ke-17 di Bunker Coffee and Bistro (12/9/2021) Jalan Imam Bonjol Nomor 175, Semarang Tengah.

 

HALO SEMARANG – “Jalan Terus” dipilih menjadi tema ulang tahun Kolektif Hysteria ke 17 beberapa hari lalu. Selama dua hari kelompok seniman yang bermarkas di Jalan Stonen Nomor 29, Bendanngisor, Gajahmungkur, Kota Semarang ini menghelat acara yang bisa diliat di kanal live IG mereka @grobakhysteria. Siaran dilakukan di Kampung Ranting Pelangi (11/9/2021), Wonolopo, Mijen, dan Bunker Coffee and Bistro (12/9/2021) Jalan Imam Bonjol Nomor 175, Semarang Tengah.

Sejumlah seniman unjuk gigi dalam dua hari tersebut. Ada Soegi Bornean, Bhakta Murti, Remaja Ranting Pelangi, Tridhatu di hari pertama dan Ra, Pohon Sardjono, WOL, serta DJ Scaregrind di hari kedua. Selain pentas seni, Kolektif Hysteria juga memperkenalkan ulang Dinas Cipta Tempat dan Ruang (DCTR) sebagai metode dan alat berupa dua unit sepeda motor roda tiga sebagai sistem pendukung event, alat angkut, sekaligus panggung dan galeri berjalan.

“Kondisi pandemi selama dua tahun ini tak membuat kami tumbang, meski berat berkat dukungan semua teman akhirnya Kolektif Hysteria bisa bertahan dan memberi kontribusi pada kota,” ujar Adin, co founder Hysteria pada awak pers beberapa waktu lalu.

Diakui Adin, selama masa pandemi banyak kontrak batal termasuk keberangkatan ke New York, Amerika Serikat tahun lalu. Padahal sudah mengantongi tiket pulang pergi dan perjalanan mengurus visa.

“Tahun lalu sempat terpikir kolaps karena benar-benar tak ada pemasukan signifikan, dukungan teman-teman seniman di Semarang memberi suntikan semangat luar biasa, sehinggal harus jalan terus,” tambahnya.

Seperti diceritakannya, setahun lalu berbagai musisi dan komunitas seni membuat penggalangan dana untuk Kolektif Hysteria di salah satu gedung Balai Kota Semarang. Bagi Hysteria itu merupakan utang besar dan menjadi pemicu untuk memberikan kontribusi balik di tahun-tahun mendatang.

Sementara itu Ketua Panitia ulang tahun, Tommy Ari Wibowo menegaskan, acara ini juga menjadi keterbukaan Hysteria untuk balik support terhadap kolektif maupun seniman di Semarang, dengan menggunakan aset Hysteria yang dikumpulkan 17 tahun terakhir ini. Termasuk panggung dan galeri berjalan DCTR.

“Kami sempat melakukan demo membawa DCTR keliling di Kota Semarang, baik di wilayah rural, urban, kampung kota, suburban, pesisir, dan daerah perbukitan,” ujarnya.

Melalui alat dan metode Hysteria, Tommy memastikan bisa menggelar event-event seni di tempat tak terduga, eksotis dan eksperimen lainnya. DCTR dilengkapi dengan sound system dan genset yang memungkinkan menggelar secret gigs di tempat-tempat yang jauh dari jangkauan publik maupun di tengah permukiman padat.

Salah satu pengunjung pameran Aphrodita (17) warga Kampung Ranting Pelangi, Wonolopo, Mijen menyambut baik inisiatif ini. Fasilitas ini bisa dimanfaatkan dengan baik tak hanya komunitas seni tetapi juga karang taruna atau aktivis kampung yang menginginkan warganya berdaya.

“Tentunya dengan menyesuaikan protokol kesehatan dan seterusnya kalau mau bikin acara acara di kampung, setidaknya pemantiknya harus terus diupayakan supaya kita tidak berhenti dan kontra produktif,” celetuknya.(HS)

Share This

Pemprov Jateng Dapat Penghargaan WTP 10 Kali Berturut Dari Kemenkeu

Patut Diketahui, Ini Tips Merawat Burung Kenari Siap Terjun Kontes Kicaumania