15 Tahun Jadi Wartawan, Arif Pilih Jadi Relawan Sungai di Klaten

Arif Fuad Hidayah, relawan sungai di Klaten menunjukkan piagam penghargaan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (Foto : Klatenkab.go.id)

 

HALO KLATEN – Kemampuannya membangun relasi, membuat Arif Fuad Hidayah mudah diterima banyak kalangan, dari orang biasa hingga para pejabat.

Hal itu pula yang dia jadikan modal awal, ketika membangun jiwa kerelawanan warga Klaten, untuk merawat dan menjaga sungai di wilayah itu.

Keberhasilan itu pula yang mengantarkan mantan wartawan itu, sebagai penerima penghargaan dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional, Rabu (20/3/21) lalu secara daring.

“Saya 15 tahun jadi wartawan. Beberapa media nasional pernah saya ikuti, termasuk media internasional seperti Bloomberg dan Astro. Saya pernah interview dengan pelaku bom Bali Imam Samudra. Tapi itu pengalaman dulu. Dunia jurnalistik saya tinggalkan, dan memilih menjadi relawan sungai, karena memang daerah Klaten termasuk rawan bencana” ungkap Arif, seperti dirilis Klatenkab.go.id.

Menurut pria yang tinggal di Prambanan Klaten itu mengatakan semangat gotong royong atau pentahelik warga Klaten itu luar biasa. Baginya hal ini kekuatan yang harus dijaga. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri mengatasi permasalahan sungai dan bencana.

“Menjamur nya kelompok-kelompok relawan itu perlu dirangkul. Hal ini adalah social capital yang dimiliki Kabupaten Klaten, agar wilayah ini menjadi daerah tangguh bencana. Anggaran saja tidak cukup bagi pemerintah membangun kepedulian. Masyarakat itu sendiri harus dijadikan subyek dalam merawat kebencanaan” ujar bapak tiga anak itu.

Arif mengatakan bahwa nenek moyang kita sangat beradab dalam memperlakukan sungai. Kondisi dan semangat memuliakan sungai itu lah, yang harus dipulihkan di masa kini.

“Sungai harus dikembalikan pada hakekatnya. Sungai adalah sahabat irigasi untuk menopang pertanian. Sungai itu indah untuk anak- anak bermain dan harus bisa menjadi sumber manfaat baik secara ekonomi atau meningkatkan kualitas gizi keluarga,” kata dia.

Menurut dia, Tuhan telah menciptakan bumi secara sempurna. Tuhan juga menggambarkan keindahan surge, dengan keberadaan sungai-sungai yang mengalir.

Karena itu manusia tidak boleh sembarangan dalam memperlakukan sungai. Karena jika hal itu dilakukan, seperti misalnya membuang sampah ke sungai, maka bencana lah yang akan terjadi.

“Maka kembali bumi pada marwahnya. Rawat sungai, jangan dirusak biarpun hanya sekedar tidak membuang sampah atau puntung rokok ke sungai,” kata dia. (HS-08)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.