in

Sempat Difungsikan Sebagai Terminal Bus Antarkota Sebelum tahun 80-an, Begini Sejarah Stasiun Jurnatan Semarang

Suasana perumahan toko (Ruko) Jurnatan di Jalan H Agus Salim, Kota Semarang nampak masih kosong yang dulunya merupakan Stasiun Jurnatan Semarang, dan saat ini menjadi salah satu aset PT KAI yang akan dioptimalkan, baru-baru ini.

SAAT melintas di Jalan H Agus Salim, Kota Semarang, tepatnya deretan /komplek rumah pertokoan (Ruko) Jurnatan, sebelum sampai Bundaran Museum Kotalama nampak telah kosong. Hanya terlihat beberapa kendaraan yang terparkir di depan sepanjang bangunan yang berjumlah 40 ruko. Di depan ruko ini juga terpampang tulisan merupakan Aset PT KAI. Apabila kita telisik lagi, ternyata di lokasi bangunan ruko ini menyimpan sejarah perkembangan tentang perkeretapian di Indonesia umumnya, dan Kota Semarang khususnya. Dan lokasi ini ternyata dulunya adalah bekas Stasiun Jurnatan Semarang. Jejak sejarahnya masih bisa kita lihat dari lambang kereta api yang melekat pada salah satu bangunannya, dengan tulisan Sentral Jurnatan.

Stasiun Jurnatan dulu bernama Stasiun Semarang Central, dibangun pada tahun 1882 oleh perusahaan swasta Samarang-Joana Stoom tram Maatschappij (SJS), perusahaan KA Hindia Belanda. Stasiun ini dahulu melayani pemberangkatan kereta api tujuan Demak, Kudus, Pati, Rembang, Blora. Selain melayani jalur ini, Stasiun Jurnatan merupakan pusat jaringan trem KA uap Kota Semarang.

Trem kota ini, selain menghubungkan stasiun Jurnatan dengan Stasiun Semarang NIS di Tambaksari dan Pelabuhan Semarang juga menempuh rute Jurnatan- Bulu dan Jurnatan-Jomblang.

Jalur Jurnatan Bulu berada di sisi jalan Bojong (Pemuda) sedangkan jalur Jurnatan-Jomblang melintas sepanjang jalan yang sekarang dikenal sebagai jalan MT Haryono. Jalur trem ini ditutup pada tahun 1940 karena kurang menguntungkan.

“Stasiun Jurnatan ditutup pada tahun 1974, dan semua kereta api yang semula dilayani stasiun ini dialihkan ke stasiun Tawang. Bangunan sempat dimanfaatkan sebagai terminal bus antar kota, namun pada sekitar tahun 1980-an dibongkar sama sekali. Di tempatnya sekarang berdiri sebuah kompleks pertokoan, Pertokoan Jurnatan,” ungkap Tjahjono Rahardjo, sekaligus Pemerhati Sejarah Kota Semarang saat dihubungi Halosemarang.id, Selasa (14/5/2024).

Pada awalnya stasiun Jurnatan, kata Tjahjono Rahardjo berupa bangunan dari kayu. Namun, pada tahun 1913 stasiun kecil ini di bongkar dan digantikan sebuah bangunan baru yang besar dan megah dengan konstruksi atap dari baja dan kaca.

“Bangunan stasiun Djoernatan semula adalah bangunan kayu sederhana. Namun dengan semakin banyaknya kereta api yang harus dilayani, antara lain dengan dibukanya jalur ke Cepu dan Bojonegoro, serta untuk menyambut Koloniale Tentoonstelling (Pekan Raya Kolonial), pada 1913 bangunan kayu itu diganti dan diperluas dengan bangunan berkonstruksi besi dan kaca buatan NV Nederlandsche Staal-industrie (dahulu HE Oving jr.) di Rotterdam. Stasiun Djoernatan semula adalah stasiun pusat sistem trem kota Semarang (karena itu sempat disebut Centraal Station) yang dioperasikan oleh perusahaan Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) mulai 1 Desember 1882. Jalur trem pertama adalah Djoernatan- Djomblang, disusul jalur Djoernatan-Boeloe, Djoernatan-Boom Kecil (pelabuhan) dan Djoernatan-stasiun Samarang NIS,”jelasnya.

“Dulu jalur dari Jurnatan ke Jomblang, rel itu melalui Jalan MT Haryono lurus sampai Jomblang atau sekitar di Java Supermall sekarang, sedangkan jalur selanjutnya, rute Jurnatan-Bulu melalui Jalan Bojong (sekarang Pemuda), belok kanan Pasar Bulu sampai Banjir Kanal Barat (BKB). Lalu,
Jalur dari Jurnatan ke Pelabuhan Semarang. Dan jalur yang melayani dari Jurnatan ke Stasiun NIS di Kemijen, dulunya saat menyusuri Jurnatan ke Jomblang masih melewati sawah,”katanya.

“Lalu, SJS juga membuka jalur Semarang ke Juwana, Lasem sampai Cepu,”imbuhnya.

Sempat stasiun Jurnatan ini, kata dia, setelah ditutup, dihuni oleh permukiman liar. “Kemudian stasiun pernah dipakai untuk terminal bus antar kota. Dan bangunan baja dan kaca masih dipakai terus, sebelum dipindahkan aktivitas terminal busnya ke Terboyo. “Lalu, pada tahun 1980- an, stasiun dibongkar dan sisa bangunannya dibawa ke Museum Ambarawa dan TMII Jakarta, sedangkan sisa baja entah kemana tidak tahu, dan sekarang dibangun pertokoan,” pungkas Tjahjono Rahardjo.

Sebelumnya, Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Franoto Wibowo membenarkan bahwa, ruko Jurnatan ini dulunya menyimpan sejarah tentang perkeretaapian di Semarang, dulunya memang stasiun Jurnatan Semarang. Saat ini, kata Franoto, sebanyak 40 bangunan ruko tersebut masih kosong, dan merupakan aset PT KAI dan akan dioptimalkan dan dihidupkan kembali.

“Dengan memiliki luas bangunan 3.060, meter persegi. Dan sudah sah sebagai aset PT KAI berdasarkan penetapan Pengadilan berkekuatan hukum tetap. Dan sesuai amanat BUMN bahwa tiap aset yang dimilikinya untuk dioptimalkan bagi perusahaan. Sementara ini (ruko Jurnatan-red) kami tawarkan kepada masyarakat untuk disewa dan saat ini sudah ada calon penyewa yang berminat yang sudah menghubungi kami untuk menyewa ruko,” ungkapnya. (HS-06)

 

 

Pj Gubernur Jateng Ajak Pepabri Sukseskan Pelaksanaan Pilkada Serentak 2024

The Mutiara Residence Cepiring, Wujudkan Impian dengan Rumah Idaman di Kendal