in

100 KUA Direvitalisasi, Tak Sekadar Pencatatan Nikah

Menag Yaqut Cholil Qoumas. (Foto : Kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Kantor Urusan Agama (KUA), sebagai “wajah” dari Kementerian Agama, ke depan mulai dibenahi. Bahkan revitalisasi KUA ini menjadi program prioritas Menag Yaqut Cholil Qoumas.

Menurut rencana, ada 100 KUA di seluruh Indonesia, yang akan menjadi target revitalisasi. Adapun untuk langkah awal, Kemenag menjadikan enam KUA di Indonesia sebagai model.

Enam KUA tersebut adalah KUA Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara (Jawa Tengah), KUA Kecamatan Ciawi Gebang, Kabupaten Kuningan (Jawa Barat), KUA Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul (Daerah Istimewa Yogyakarta), KUA Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo (Jawa Timur), KUA Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah (Lampung), dan KUA Kecamatan Biringkanaya, dan Kota Makassar (Sulawesi Selatan).

“Revitalisasi KUA saat ini sangat penting dilakukan, karena KUA adalah layanan terdepan yang dimiliki oleh Kementerian Agama. Layanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat akar rumput,” kata Menag di Banjarnegara, beberapa waktu lalu seperti dirilis Kemenag.go.id.

Menurut dia, wajah KUA adalah wajah Kementerian Agama. Karena itu Kemenag menetapkan revitalisasi KUA, sebagai salah satu di antara tujuh kebijakan prioritas.

“KUA harus memberikan pelayanan publik terbaik bagi masyarakat,” sambungnya.

Gus Yaqut mengatakan kebijakan revitalisasi KUA ini, sejalan dengan amanat Presiden Republik Indonesia, bahwa pelayanan publik adalah wajah konkrit kehadiran negara dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

“Untuk mewujudkan pelayanan publik yang prima, memerlukan ikhtiar yang berkelanjutan, memerlukan transformasi sistem, memerlukan tata kelola, membutuhkan perubahan mindset dan budaya kerja birokrasi kita dari budaya senang dilayani menjadi budaya melayani,” kata Menag.

Ke depan, tambahnya, KUA harus menjadi pusat layanan keagamaan yang prima, kredibel dan moderat, dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan umat beragama. Setiap pelayanan KUA harus berpegang pada prinsip moderat, inklusif, mudah, andal, kredibel, dan transparan.

Revitalisasi KUA telah menetapkan empat tujuan strategis, yaitu: peningkatan kualitas kehidupan umat beragama, penguatan peran KUA dalam mengelola kehidupan keberagamaan, penguatan program dan layanan keagamaan, dan peningkatan kapasitas kelembagaan KUA sebagai pusat layanan keagamaan.

Untuk memastikan semua itu berjalan sesuai rencana, Gus Yaqut juga meminta jajarannya berkomitmen pada dengan tugasnya dan masyarakat menjadi saksi.

Komitmen tersebut penting, untuk memastikan revitalisasi tidak hanya berhenti pada launching.

“Saya akan terus memantau bersama seluruh tim, upaya yang dilakukan masing-masing KUA, terutama yang ditunjuk sebagai model ini. Secara pribadi saya akan mengawasi,” kata dia.

Menag juga minta semua jajarannya terlibat aktif mengawal dan menyukseskan kebijakan Revitalisasi KUA.

“Tidak hanya Ditjen Bimas Islam, tapi juga semua Kantor Wilayah dan Kantor Kemenag, harus terlibat aktif mengawal dan menyukseskan kebijakan revitalisasi KUA,” pesannya.

Kepada Sekjen Kemenag, Gus Menteri berpesan bahwa sebagai program prioritas, kebijakan ini harus didukung dengan anggaran. Tujuannya untuk memastikan masyarakat, mendapatkan haknya atas pelayanan publik terbaik. Sehingga, kehadiran Kementerian Agama bisa dirasakan manfaatnya secara nyata.

Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin, menjelaskan revitalisasi akan memperluas cakupan fungsi layanan KUA. Ke depan, layanan KUA tidak hanya seputar pencatatan pernikahan, tapi juga fungsi pemberdayaan ekonomi dan penguatan moderasi beragama.

Menurutnya, setidaknya ada lima transformasi layanan KUA dalam program revitalisasi ini. Pertama, KUA menjadi garda terdepan Kementerian Agama dalam pelayanan publik.

“Kedua, KUA menjadi pusat layanan keagamaan bagi masyarakat,” kata dia.

Tansformasi ketiga, kata Kamaruddin, KUA menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat. Keempat, KUA menjadi pusat data keagamaan yang dilengkapi dengan sistem deteksi dan respon dini terhadap konflik keagamaan. Adapun transformasi kelima, KUA menjadi rumah moderasi beragama berbasis komunitas.

“Semoga program revitalisasi ini benar-benar dapat memperkuat tugas dan fungsi KUA dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat untuk mewujudkan khaira ummah,” tutupnya.

Kamaruddin menambahkan, revitalisasi KUA meliputi rehab fisik di setiap KUA model. Rehab fisik tersebut dilakukan seperti perubahan layout front office, layout balai nikah, dan ruang konsultasi.

“Revitalisasi ini juga meliputi penyempurnaan standar pelayanan publik pada KUA Kecamatan, transformasi digital dan penguatan program capacity building terhadap petugas-petugas di KUA model seperti penghulu dan penyuluh,” ujarnya.

Kamaruddin melanjutkan, untuk program penguatan kompetensi petugas di KUA, Ditjen Bimas Islam telah melakukan sejumlah bimbingan teknis (bimtek), seperti bimtek jejaring lokal, bimtek moderasi beragama berbasis keluarga.

“Kemudian bimtek layanan prima, bimtek revitalisasi KUA melalui program dan layanan bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah tahun 2021, bimtek administrasi dan pengamanan aset wakaf dan terakhir bimtek standar penyuluh agama Islam dukungan revitalisasi KUA,” tandas Kamaruddin. (HS-08)

KSP Buka Suara Soal Abdee Slank Jadi Komisaris Telkom

Jadi Model Revitalisasi, KUA Biringkanaya Makassar Hadirkan Layanan Digital